Universitas Gadjah Mada Departemen Teknik Geodesi
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Apa itu Teknik Geodesi?
    • Sejarah DTGD
    • Visi dan Misi Departemen
    • Stuktur Organisasi
    • Dosen
    • Staf Tenaga Kependidikan
  • Program Studi
    • Sarjana Teknik Geodesi
    • Magister Teknik Geomatika
    • Doktor Teknik Geomatika
    • International Undergraduate Program of Geodetic Engineering
  • Kemahasiswaan
    • Admisi
    • Organisasi Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Tinggal di Jogja
  • Riset dan Publikasi
    • Kelompok Bidang Keahlian
      • Lab/KBK Survei Keteknikan
      • Lab/KBK Hidrografi
      • Lab/KBK Geodesi Geometri dan Geodesi Fisis
      • Lab/KBK Kadaster dan Teknik Geoinformatika
      • Lab/KBK Teknik Fotogrametri dan Penginderaan Jauh
    • Penelitian-Pengabdian Masyarakat
    • Jurnal JGISE
    • Konferensi CGISE
    • Geo-Land-SEA 2023
  • Layanan
    • SIJAMU DTGD
      • Dashboard Geomatika
    • Safety, Health, and Environment (SHE)
    • Layanan Akademik
    • Perpustakaan Terpadu UGM
    • Layanan TI
    • Fasilitas Pendukung
    • Hasil Survei
  • Beranda
  • SDGs16
  • SDGs16
Arsip:

SDGs16

Laboratorium Survei Keteknikan DTGD FT UGM Terima Kunjungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan

Berita Jumat, 30 Oktober 2026

YOGYAKARTA – Laboratorium Survei Keteknikan, Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (DTGD FT UGM) menerima kunjungan dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kunjungan yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pemahaman teknis peserta melalui pengenalan fasilitas laboratorium, peralatan pengujian, prosedur pelaksanaan pengujian, serta analisis hasil pengujian konstruksi sipil yang mendukung penyelenggaraan sarana dan prasarana perkeretaapian.

Dalam kegiatan ini, peserta mengunjungi tiga laboratorium di lingkungan Fakultas Teknik UGM, yaitu Laboratorium Survei Keteknikan di Departemen Teknik Geodesi serta Laboratorium Hidrolika dan Laboratorium Mekanika Tanah di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan. Sebanyak 30 peserta dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian dibagi menjadi dua kelompok yang mengikuti kunjungan laboratorium secara bergantian.

Di Laboratorium Survei Keteknikan, rombongan disambut oleh Kepala Laboratorium Survei Keteknikan, Dr. Ir. Yulaikhah, S.T., M.T., dan Kepala Laboratorium Hidrografi, Dr. Ir. Bambang Kun Cahyono, S.T., M.Sc., IPU., didampingi oleh laboran, yaitu Iqbal Hanun Azizi, S.T., Zulfian Isnaini Cahya, S.Si., dan Andris Sudaryanto. Dalam sesi pengenalan, dosen dan laboran menjelaskan berbagai fasilitas serta peralatan survei dan pemetaan yang dimiliki laboratorium, mulai dari instrumen survei terestris seperti theodolite, waterpass, total station, dan robotic total station, hingga teknologi geospasial modern seperti Global Navigation Satellite System (GNSS), Terrestrial Laser Scanner (TLS), Unmanned Aerial Vehicle (UAV) LiDAR, dan SLAM handheld scanner. Peserta juga diperkenalkan dengan peralatan survei hidrografi, antara lain Single Beam Echo Sounder (SBES) dan Multi Beam Echo Sounder (MBES).

Selain memperoleh penjelasan mengenai fungsi dan prinsip kerja setiap instrumen, peserta berkesempatan melihat demonstrasi penggunaan Terrestrial Laser Scanner (TLS). Demonstrasi ini memberikan gambaran secara langsung mengenai pemanfaatan teknologi pemindaian laser terestris untuk memperoleh data spasial tiga dimensi secara detail. Melalui pengenalan tersebut, peserta dapat memahami beragam teknologi survei dan pemetaan yang berpotensi mendukung kegiatan pemantauan, pengukuran, dan evaluasi infrastruktur.

Peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias, terutama saat menyimak penjelasan dan menyaksikan demonstrasi peralatan survei. Kunjungan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman teknis, tetapi juga membuka peluang kolaborasi antara DTGD FT UGM dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan RI. Ke depan, potensi kerja sama dapat dikembangkan melalui kegiatan pelatihan teknis, pemanfaatan teknologi geospasial untuk pemantauan infrastruktur perkeretaapian, serta kolaborasi penelitian dan pengembangan metode survei yang mendukung peningkatan kualitas dan keselamatan sarana maupun prasarana perkeretaapian.

Perkuat Standarisasi Pendidikan Teknik Geodesi, APTTEGGI Gelar Rapat di FIT ISI & GEODETA 2026

Berita Rabu, 28 Oktober 2026

SEMARANG – Di tengah perhelatan FIT ISI & GEODETA 2026, Asosiasi Perguruan Tinggi Teknik Geodesi dan Geomatika Indonesia (APTTEGGI) menggelar rapat anggota tahunan pada Selasa (27/10/2026). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Ramayana 3, Patra Semarang Hotel & Convention ini dipimpin langsung oleh Ketua APTTEGGI yang juga Ketua Departemen Teknik Geodesi UGM, Prof. Ir. Trias Aditya Kurniawan M., S.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. Forum vital ini turut dihadiri oleh Ketua Program Studi Magister Teknik Geomatika FT UGM, Ir. I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D., beserta perwakilan pimpinan departemen dan program studi geospasial dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia.

Fokus utama pembahasan dalam rapat ini tertuju pada penyeragaman dan standarisasi struktur kurikulum pendidikan tinggi Teknik Geodesi dan Teknik Geomatika secara nasional. Para anggota menyelaraskan perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) beserta susunan mata kuliah pendukungnya, penyesuaian alokasi beban SKS untuk jenjang Magister (S2), hingga harmonisasi alur kelulusan (streamline) yang selama ini bervariasi antarperguruan tinggi. Langkah strategis ini diambil guna memastikan kualitas lulusan ilmu geodesi dan geomatika di Indonesia memiliki kompetensi yang setara dan berdaya saing tinggi.

Melalui konsensus yang dicapai dalam rapat ini, APTTEGGI mempertegas komitmennya untuk menjamin standarisasi pendidikan tinggi yang adil, inklusif, dan relevan dengan perkembangan industri geospasial bagi seluruh perguruan tinggi anggota. Diharapkan hasil perumusan kurikulum nasional ini tidak hanya memperkuat mutu akademik di tingkat internal perguruan tinggi, tetapi juga memudahkan mobilitas mahasiswa serta kolaborasi riset antarkampus di masa depan.

Perkuat Sinergi Geospasial Nasional, Teknik Geodesi UGM Berpartisipasi Aktif dalam FIT ISI & GEODETA 2026

Berita Rabu, 28 Oktober 2026

SEMARANG – Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (DTGD FT UGM) turut berpartisipasi aktif dalam ajang Forum Ilmiah Tahunan Ikatan Surveyor Indonesia (FIT ISI) dan 2nd International Conference on Geospatial Data Science: Theory and Application (GEODETA) 2026.

Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) tersebut berlangsung selama dua hari, pada 26–27 Oktober 2026, bertempat di Patra Semarang Hotel & Convention, Kota Semarang, Jawa Tengah. Tahun ini, FIT ISI & GEODETA 2026 mengusung tema “Advancing Geospatial Intelligence for Sustainability and Resilience”.

Hadirkan Invited Speaker dan Pimpin Rapat APTTEGGI

Delegasi DTGD FT UGM diwakili oleh jajaran dosen yang terdiri dari Prof. Ir. Trias Aditya K.M., S.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., Prof. Ir. Nurrohmat Widjajanti, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., Dr. Ir. Catur Aries Rokhmana, S.T., M.T., IPU., Dr. Ir. Diyono, S.T., M.T., IPU., Ir. I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D., Ir. Hilmiyati Ulinnuha, S.T., M.Eng., serta Calvin Wijaya, S.T., M.Eng.

Pada hari pertama, Senin (26/10/2026), Prof. Trias Aditya hadir sebagai Invited Speaker bersama Bapak Dwi Budi Martono (Staf Ahli Kementerian ATR/BPN) dan Bapak Azis Djabbarudin (Ketua MASKI). Memasuki hari kedua, Selasa (27/10/2026), Prof. Trias juga memimpin Rapat Asosiasi Perguruan Tinggi Teknik Geodesi dan Geomatika Indonesia (APTTEGGI) guna membahas arah pengembangan pendidikan dan kurikulum geodesi nasional.

Paparkan Riset Mutakhir dan Menyabet Best Presenter

Dalam sesi diskusi paralel (parallel session), para dosen DTGD FT UGM mempresentasikan hasil-hasil riset inovatif di berbagai bidang aplikasi geospasial:

  1. Dr. Ir. Catur Aries Rokhmana, S.T., M.T., IPU. – “Geometric and Volumetric Accuracy of GNSS-Assisted Smartphone Photogrammetry for Stockpile Surveying”

  2. Dr. Ir. Diyono, ST., M.Si. – “Spatial Mapping and Prediction of Registered Mortgage Values Using Regression Kriging: A Case Study of Yogyakarta, Indonesia”

  3. Hilmiyati Ulinnuha, S.T., M.Eng. – “Analisis Anomali Pergeseran pada Deformasi Pre-Seismik Gempa Bumi Flores 15 Agustus 2026 dengan Unsupervised Machine Learning”

  4. Calvin Wijaya, S.T., M.Eng. – “Voxel-Based 3D WebGIS Visualization of UAV LiDAR for Dynamic Shadow and Flood Analysis”

Capaian membanggakan turut diraih oleh Dr. Ir. Diyono yang berhasil menyabet penghargaan sebagai Best Presenter atas pemaparan risetnya.

Selain agenda ilmiah, forum ini menjadi wadah silaturahmi serta perkuatan jejaring antara akademisi UGM dengan mitra industri, lembaga pemerintah, dan alumni Teknik Geodesi UGM yang berkiprah di berbagai sektor geospasial nasional.

Melalui keterlibatan aktif dalam FIT ISI & GEODETA 2026, Departemen Teknik Geodesi FT UGM mempertegas perannya di bidang kecerdasan geospasial (geospatial intelligence). Kontribusi akademis dan riset yang disampaikan para dosen diharapkan tidak hanya memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi teknologi geospasial yang inklusif untuk mendukung keberlanjutan dan ketangguhan pembangunan di Indonesia.

Meet the Alumni: Christanto Michael Nainggolan, Alumni Geodesi UGM yang Berkarier di Industri Geospasial Internasional

Berita Selasa, 27 Oktober 2026

Yogyakarta – Rombongan dosen Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (DTGD FT UGM) bertemu dengan salah satu alumninya, Christanto Michael Pandapotan Nainggolan, dalam rangkaian kunjungan akademik, industri, dan asosiasi profesi ke Malaysia pada 11–15 Oktober 2026. Alumni Geodesi UGM angkatan 2009 yang akrab disapa Mas Chris ini kini berkarier di Topcon sebagai Senior Sales Engineer untuk wilayah Indonesia. Perjalanan kariernya menjadi gambaran bagaimana bekal ilmu geodesi, pengalaman lintas bidang, dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka peluang berkarier di industri geospasial internasional.

Merintis Karier dari Berbagai Bidang

Setelah menyelesaikan studi pada Mei 2015, Christanto memulai perjalanan profesionalnya sebagai Purchasing Admin di perusahaan kontraktor fire protection. Ia kemudian memperoleh kesempatan terlibat dalam proyek survei di Timor-Leste, bergabung dengan ASI Pudjiastuti Geosurvey, serta bekerja selama kurang lebih dua tahun di PT Solusi Energi Nusantara (SENA). Di perusahaan tersebut, ia mulai mendalami penggunaan GNSS Topcon untuk survei jalur pipa gas dan pengolahan data sistem informasi geografis (SIG).

Pengalamannya berlanjut ke bidang teknologi informasi (IT), sebelum akhirnya bergabung dengan PT Kompas Navigasi Indonesia, perusahaan distributor alat survei dan pemetaan. Di sana, Christanto menjalani peran sebagai Technical Support dan kemudian Sales Engineer. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal yang membawanya bergabung dengan Topcon pada Oktober 2019.

Menariknya, posisi yang pertama kali ia lamar di Topcon adalah Marketing Executive. Namun, setelah melalui proses seleksi, ia justru mendapat tawaran untuk memulai karier sebagai Technical Support Engineer. Pada 2021, ia dipercaya menjadi Regional Sales Engineer untuk wilayah Indonesia. Tiga tahun kemudian, ia dipromosikan menjadi Senior Sales Engineer untuk wilayah yang sama, posisi yang masih dijalaninya hingga saat ini.

Bagi Christanto, pengalaman bekerja di berbagai bidang yang sekilas tampak tidak saling berkaitan justru memberinya perspektif yang lebih luas. Ia tidak hanya memahami aspek teknis survei dan pemetaan, tetapi juga pengolahan data, teknologi informasi, serta sisi bisnis. Pengalaman tersebut membantunya memahami kebutuhan pelanggan dan membangun solusi yang relevan dalam lingkungan kerja profesional.

Kompetensi Teknis, Komunikasi, dan Kemauan untuk Belajar

Menurut Christanto, bekerja di perusahaan multinasional tidak cukup hanya mengandalkan satu keahlian. Penguasaan ilmu teknis tetap menjadi fondasi penting, tetapi perlu dilengkapi dengan kemampuan komunikasi, bahasa Inggris, pemahaman bisnis, dan kemauan untuk terus mempelajari hal-hal baru.

Ia mengingat bahwa salah satu nilai tambah yang dinilai oleh manajernya ketika proses rekrutmen adalah keberaniannya mencoba berbagai bidang pekerjaan. Kemampuan berbahasa Inggris dan keberanian menggunakannya selama wawancara juga menjadi faktor yang mendukung. Selain itu, pengalaman menjalankan usaha sampingan turut memberinya pemahaman mengenai peluang dan aspek bisnis.

Dalam lingkungan kerja internasional, Christanto juga menghadapi tantangan untuk membangun komunikasi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan cara kerja berbeda. Salah satu pengalaman berkesannya adalah ketika ia perlu membangun kepercayaan dengan mitra bisnis yang jauh lebih senior. Melalui komunikasi yang konsisten, pemahaman terhadap kebutuhan mitra, serta upaya memberikan solusi, ia perlahan membangun hubungan profesional yang baik.

Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kepercayaan dalam dunia kerja tidak semata-mata ditentukan oleh usia atau senioritas. Pengetahuan, sikap profesional, konsistensi, dan kemampuan memahami kebutuhan pihak lain juga berperan penting dalam membangun kerja sama.

Pesan untuk Mahasiswa Geodesi UGM

Kepada mahasiswa Geodesi UGM yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, Christanto berpesan agar mereka tidak berhenti belajar dan tidak membatasi pengembangan diri hanya pada ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

Menurutnya, ilmu geodesi merupakan fondasi penting untuk memulai karier. Namun, mahasiswa juga perlu mengembangkan keterampilan pendukung, seperti bahasa asing, komunikasi, pemahaman bisnis, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ia mendorong mahasiswa agar tidak takut mencoba bidang pekerjaan baru selama bersedia belajar dan memberikan yang terbaik. Pesan Mas Chris kepada seluruh mahasiswa Geodesi UGM Adalah:

“Jangan merasa bahwa perjalanan karier harus selalu lurus sesuai dengan jurusan yang kita ambil. Yang terpenting adalah bagaimana kita terus berkembang dan memberikan nilai tambah di mana pun kita berada”

Dosen Teknik Geodesi UGM Raih Best General Presenter dan Paparkan Riset Geospasial di IC-GEOREST 2026

BeritaPenelitian Sabtu, 24 Oktober 2026

YOGYAKARTA – Dua dosen Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Catur Aries Rokhmana, S.T., M.T., IPU. dan Calvin Wijaya, S.T., M.Eng., turut berpartisipasi dan mempresentasikan hasil riset mutakhir mereka pada 4th International Conference on Geoscience and Remote Sensing Technology (IC-GEOREST 2026) yang digelar pada Sabtu (24/10/2026).

Konferensi internasional tahun ini mengusung tema “Advancing Earth Observation and Geospatial Intelligence for a Sustainable Future”. Acara diselenggarakan secara hybrid oleh Center of Disaster Monitoring and Earth Observation (DMEO) Universitas Negeri Padang (UNP) dan diikuti oleh puluhan peneliti serta akademisi dari berbagai negara.

Menghadirkan Pakar Geospasial Internasional

Rangkaian acara IC-GEOREST 2026 menghadirkan sejumlah keynote speaker internasional bereputasi pada sesi pagi hari (pukul 09.00–12.00 WIB), di antaranya:

  • Dinh Ho Tong Minh, Ph.D. (France National Research Institute for Agriculture, Food and Environment & pendiri tomoSAR, Prancis),

  • Ryo Natsuaki, Ph.D. (Graduate School of Engineering, The University of Tokyo, Jepang),

  • Mustafa Ustuner, Ph.D. (Samsun University, Turki),

  • Dr. Harry Septanto (Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Indonesia), serta

  • Mario Batubara, Ph.D. (Pusat Riset Antariksa BRIN, Indonesia).

Setelah sesi utama, kegiatan dilanjutkan dengan parallel session mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Secara keseluruhan, terdapat 89 presenter internasional yang terbagi ke dalam beberapa ruang diskusi paralel.

Inovasi UAV Murah untuk Petani hingga Klasifikasi Jalan dengan Machine Learning

Pada sesi paralel, Dr. Ir. Catur Aries Rokhmana, S.T., M.T., IPU. bertindak sebagai pemapar sekaligus session chair di Room 2. Beliau mempresentasikan penelitian berjudul “Augmenting A Standard Mapping UAV By Adding A Modified Low-Cost Action Camera With 830nm Filter For Relative Vegetation Vigor Zonation”.

Riset ini berfokus pada modifikasi drone peta RGB standar dengan penambahan kamera Near-Infrared (NIR) berbiaya terjangkau (low-cost). Tim peneliti UGM juga mengembangkan aplikasi khusus untuk mengolah citra hasil modifikasi tersebut. Inovasi ini dirancang agar instrumen pemetaan vegetasi yang presisi dapat dijangkau dan dimanfaatkan secara langsung oleh kelompok tani di lapangan.

Sementara itu, Calvin Wijaya, S.T., M.Eng. menyampaikan penelitiannya di Room 5 dengan judul “Road Type Classification Using Machine Learning And Deep Learning In Indonesia’s Capital Cities”. Penelitian ini mengaplikasikan algoritma Machine Learning dan Deep Learning untuk mengklasifikasikan tipe dan kelas jalan secara otomatis dengan memanfaatkan sumber data terbuka (open-source data) seperti OpenStreetMap.

Sabet Penghargaan Best General Presenter

Prestasi membanggakan turut diraih oleh Calvin Wijaya, S.T., M.Eng. yang berhasil menyabet penghargaan sebagai Best General Presenter dalam konferensi internasional tersebut atas penyampaian risetnya yang komprehensif dan komunikatif.

Partisipasi aktif serta capaian kedua dosen Teknik Geodesi UGM pada forum IC-GEOREST 2026 ini menunjukkan komitmen nyata akademisi UGM dalam memperkuat kontribusi riset geospasial di tingkat global, memajukan teknologi penginderaan jauh yang aplikatif bagi masyarakat, serta mendukung pengembangan kecerdasan buatan berbasis spasial (GeoAI) untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Dari Geodesi UGM ke Menara Petronas: Tentang Alumni dan Hubungan yang Terus Terjaga

Berita Senin, 19 Oktober 2026

Kuala Lumpur, Malaysia — Ada banyak cara untuk mengetahui bahwa hubungan antara kampus dan alumninya masih terjaga dengan baik. Salah satunya adalah ketika seorang alumni yang telah lama meninggalkan bangku kuliah justru dengan antusias mengundang dosen-dosen dan adik-adik almamaternya untuk berkunjung ke tempatnya bekerja. Bukan karena ada kewajiban, melainkan karena hubungan baik yang memang tidak pernah benar-benar terputus.

Cerita itulah yang mewarnai kunjungan rombongan Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), ke Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, dalam rangkaian kunjungan akademik pada Oktober 2026.

Rombongan yang berjumlah 18 orang dan dipimpin Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof. Trias Aditya, mendapat sambutan hangat dari Kristiawan Tri Nugroho, yang akrab disapa Mas Wawan. Ia merupakan alumni Teknik Geodesi UGM angkatan 1999 yang kini berkarier sebagai Technical Manager di PETRONAS, perusahaan energi Malaysia.

Dari Geodeta hingga PETRONAS

Bagi sejumlah dosen Geodesi UGM, Mas Wawan bukanlah sosok yang asing. Sejak masih mahasiswa, ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk mengelola Geodeta, majalah mahasiswa Teknik Geodesi UGM.

Keterlibatan tersebut rupanya menjadi bagian dari hubungan panjangnya dengan almamater. Setelah lulus dan membangun karier profesional, komunikasi dengan kampus tetap terjaga.

Dr. I Made Andi Arsana, dosen Teknik Geodesi UGM yang merupakan kakak angkatannya, mengenang bahwa kepedulian Mas Wawan terhadap kampus bukanlah sesuatu yang baru. Dalam salah satu kesempatan, Mas Wawan pernah membantu menyediakan dukungan dana bagi mahasiswa yang membutuhkan biaya untuk mengikuti konferensi akademik. Bantuan seperti ini mungkin tidak selalu menjadi berita besar. Namun, bagi mahasiswa yang sedang berusaha mengembangkan diri, dukungan seorang alumni dapat membuat perbedaan yang nyata.

Kini, Mas Wawan telah memiliki pengalaman lebih dari 19 tahun di bidang geomatika, survei, dan akuisisi data geofisika untuk industri minyak dan gas. Di PETRONAS, ia menjalankan peran kepemimpinan teknis dan konsultansi untuk berbagai kegiatan, baik di darat maupun lepas pantai. Keahliannya mencakup investigasi bahaya geologi, pemantauan struktur, serta pengembangan kemampuan dan teknologi survei. Di tengah kesibukan profesionalnya, ia juga sedang menempuh pendidikan doktoral di bidang Teknik Geomatika di Universiti Teknologi Malaysia.

Perjalanan profesional tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu geomatika dapat membawa lulusannya berkiprah dalam industri energi internasional. Namun, yang menarik dari cerita ini bukan hanya pencapaian kariernya, melainkan juga hubungan baik yang tetap ia rawat dengan kampus tempatnya belajar.

Bertemu Kembali dengan Para Pembimbing

Atas inisiatif Mas Wawan, rombongan UGM mendapat kesempatan berkunjung ke Menara Kembar Petronas. Kegiatan berlangsung dalam suasana santai melalui diskusi informal, kunjungan ke gedung, dan kesempatan berfoto bersama di jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar yang menjadi ikon Kuala Lumpur tersebut.

Pertemuan ini juga menghadirkan momen personal yang istimewa. Mas Wawan kembali bertemu dengan Bapak Rochmad Muryamto dan Bapak Abdul Basith, dua dosen yang pernah menjadi dosen wali dan pembimbing skripsinya semasa kuliah.

Bagi seorang alumni, bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah mendampingi perjalanan akademiknya tentu memiliki makna tersendiri. Demikian pula bagi para dosen, melihat mantan mahasiswa berkembang dan berkiprah dalam dunia profesional merupakan pengalaman yang menggembirakan.

Kehangatan kunjungan semakin terasa ketika Mas Wawan menjamu seluruh rombongan untuk makan sore di sebuah restoran di lingkungan Menara Petronas. Jamuan tersebut menjadi perhatian tersendiri karena tidak semua orang berkesempatan menikmati pengalaman serupa di salah satu bangunan paling dikenal di Malaysia.

Ada pula penyerahan tanda apresiasi sebagai ungkapan terima kasih atas sambutan dan hubungan baik yang telah terjalin.

Hubungan Baik yang Membuka Peluang

Di balik suasana akrab tersebut, pertemuan juga membuka pembicaraan mengenai peluang kolaborasi antara kampus dan dunia industri.

Pengalaman Mas Wawan di PETRONAS menjadi sumber pengetahuan yang relevan bagi mahasiswa maupun dosen Teknik Geodesi UGM. Dalam diskusi informal, muncul gagasan untuk kembali menggiatkan kuliah tamu, menjajaki kunjungan lanjutan, serta membicarakan kemungkinan kesempatan magang bagi mahasiswa.

Gagasan-gagasan tersebut memang masih memerlukan komunikasi dan tindak lanjut. Namun, pertemuan ini memperlihatkan bagaimana hubungan personal yang baik dapat mempermudah terbukanya percakapan tentang kerja sama yang lebih konkret.

Hubungan antara kampus dan alumni sering kali dipahami sebagai sesuatu yang bersifat administratif. Alumni diundang ketika ada kegiatan, diminta mengisi survei, atau dihubungi ketika kampus membutuhkan dukungan. Padahal, hubungan yang kuat tidak dapat dibangun hanya ketika ada keperluan.

Pengalaman bersama Mas Wawan memperlihatkan hal yang berbeda. Kepeduliannya sudah tumbuh sejak menjadi mahasiswa, terus terjaga melalui komunikasi, dan tetap terlihat ketika ia telah memiliki tanggung jawab profesional yang besar.

Tentu saja, hubungan semacam ini tidak muncul begitu saja. Pengalaman yang baik selama kuliah, interaksi yang hangat antara mahasiswa dan dosen, serta kesediaan untuk terus berkomunikasi menjadi bagian penting dari proses panjang tersebut.

Pada akhirnya, kunjungan ke Menara Petronas ini memberikan pelajaran sederhana yang penting. Kampus tidak hanya bertugas mendidik mahasiswa hingga mereka lulus. Kampus juga perlu membangun hubungan manusiawi yang membuat alumninya merasa tetap menjadi bagian dari keluarga akademik, di mana pun mereka berada.

Sebaliknya, alumni dapat terus mengambil peran dalam perjalanan almamaternya, melalui berbagi pengalaman, membuka jejaring, atau membantu adik-adik mahasiswa menemukan kesempatan baru.

Menara Petronas mungkin menjadi tempat yang paling menarik untuk dikenang dari kunjungan ini. Namun, yang lebih berharga adalah hubungan baik yang telah dibangun jauh sebelum pertemuan tersebut terjadi, dan diharapkan terus terjaga setelahnya.

Diplomasi yang Akrab: Cerita dari Sebuah Pertemuan di Kuala Lumpur

Berita Senin, 19 Oktober 2026

Kuala Lumpur, Malaysia — Niat awalnya sederhana. Sekadar mengabarkan bahwa rombongan Departemen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang berkunjung ke Malaysia. Bukan meminta pertemuan, apalagi jamuan. Namun, sebuah pesan singkat kepada Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Malaysia justru berujung pada pertemuan hangat di sebuah restoran di Kuala Lumpur. Dari situlah cerita menarik tentang diplomasi pendidikan dimulai.

Pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 16.30 waktu setempat, rombongan Departemen Teknik Geodesi UGM bertemu dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk Malaysia, Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., di restoran Madam Kwan’s, Kuala Lumpur. Beliau hadir bersama istri dan menjamu rombongan UGM yang berjumlah 18 orang, dipimpin oleh Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof. Trias Aditya. Dua mitra industri, Bapak Ricky dan Bapak Madiono, juga turut hadir.

Pertemuan tersebut bermula ketika Dr. I Made Andi Arsana, salah satu dosen Teknik Geodesi UGM, menghubungi Bapak Ahmad Romadhoni untuk menyampaikan rencana kunjungan rombongan ke Malaysia. Bagi Andi, mengabarkan kedatangan kepada perwakilan Indonesia merupakan bagian dari etika kunjungan akademik. Selain itu, komunikasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dengan dukungan Atase Pendidikan pada masa mendatang.

Respons yang diterima ternyata melampaui harapan. Pak Dhoni, demikian beliau biasa dipanggil, justru berinisiatif mengundang seluruh rombongan untuk bertemu dan berbincang bersama.

Cerita di Balik Tugas Seorang Atase Pendidikan

Pertemuan berlangsung santai. Percakapan mengalir dari pengalaman pribadi hingga berbagai persoalan pendidikan Indonesia di Malaysia. Di antara cerita yang dibagikan, ada satu hal yang sangat membekas bagi rombongan UGM, yaitu kompleksitas mengurus pendidikan anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI).

Pak Dhoni menceritakan bahwa sebagian anak PMI menghadapi kesulitan mengakses pendidikan karena tidak memiliki dokumen administrasi yang diperlukan. Persoalan ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam upaya memastikan mereka tetap memperoleh kesempatan belajar.

Cerita tersebut memberikan perspektif yang berbeda tentang pekerjaan seorang Atase Pendidikan. Bagi kalangan perguruan tinggi, kerja sama pendidikan internasional sering kali identik dengan pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, atau program gelar ganda. Namun, dari percakapan sore itu, rombongan UGM memperoleh gambaran bahwa diplomasi pendidikan juga menyangkut persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana membantu anak-anak Indonesia memperoleh kesempatan bersekolah ketika kondisi mereka tidak sesederhana yang dibayangkan.

Di balik istilah diplomasi pendidikan yang terdengar formal, ternyata ada persoalan kemanusiaan yang sangat nyata. Ada anak-anak yang membutuhkan sekolah, ada persoalan administrasi yang tidak mudah diselesaikan, dan ada upaya panjang untuk mencari jalan keluarnya.

Cerita itu menjadi salah satu bagian paling berkesan dari pertemuan tersebut.

Dari Persahabatan hingga Peluang Kolaborasi

Di tengah pembicaraan tentang berbagai tantangan pendidikan, suasana menjadi semakin akrab ketika Pak Dhoni, yang juga adalah dosen Fakultas Peternakan UGM, bercerita tentang masa sekolahnya di SMA Negeri 3 Yogyakarta, yang dikenal sebagai Padmanaba.

Kebetulan, beberapa dosen Teknik Geodesi UGM juga merupakan alumni sekolah yang sama. Kesamaan tersebut segera memunculkan nostalgia tentang Yogyakarta dan membuat percakapan semakin cair.

Sebuah pertemuan yang awalnya dilandasi kepentingan kelembagaan ternyata juga mempertemukan orang-orang dengan kenangan dan pengalaman yang saling beririsan. Tidak semua hal harus dibicarakan dalam suasana resmi untuk menghasilkan hubungan yang baik.

Dalam kesempatan itu, Pak Dhoni juga menyampaikan kesediaannya untuk mendukung penguatan kolaborasi pendidikan antara Indonesia dan Malaysia. Ia mendorong agar hubungan yang telah terbangun dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang nyata.

Bagi Departemen Teknik Geodesi UGM, dukungan tersebut tentu menjadi kabar baik. Malaysia memiliki banyak institusi pendidikan yang relevan untuk dijajaki sebagai mitra akademik. Kehadiran Atase Pendidikan yang terbuka terhadap kolaborasi dapat membantu mempertemukan gagasan dan pihak-pihak yang memiliki kepentingan bersama.

Meski demikian, pertemuan sore itu memang tidak dimaksudkan untuk menghasilkan kesepakatan formal. Tidak ada dokumen yang ditandatangani atau program baru yang langsung diputuskan. Yang terbangun adalah komunikasi, saling pengertian, dan kesediaan untuk menjaga hubungan baik.

Bagi rombongan UGM, hal tersebut sudah merupakan awal yang menggembirakan.

Pertemuan di Madam Kwan’s sore itu meninggalkan dua kesan. Pertama, adanya kepedulian dan kerja nyata di balik tugas diplomasi pendidikan Indonesia di Malaysia, terutama dalam menghadapi persoalan pendidikan anak-anak PMI. Kedua, adanya keterbukaan untuk mendukung kolaborasi akademik yang lebih luas antara kedua negara. Rombongan UGM pulang dengan kesan bahwa urusan pendidikan Indonesia di Malaysia mendapat perhatian dari sosok yang memahami tantangan di lapangan sekaligus terbuka terhadap gagasan kerja sama.

Kini, kesempatan itu perlu ditindaklanjuti dan dimanfaatkan dengan baik. Sebab, terkadang kerja sama yang baik tidak dimulai dari sebuah dokumen resmi, melainkan dari komunikasi sederhana, sambutan yang hangat, dan percakapan yang saling membuka wawasan.

Lebih dari Sekadar Pembimbing: Kisah Reuni Akademik Dr. Nasir dan Alumni UTP

Berita Jumat, 16 Oktober 2026

Malaysia — Oktober 2026 — Pertemuan kembali dengan dosen pembimbing sering kali menghadirkan lebih dari sekadar nostalgia masa studi. Bagi empat alumni Universiti Teknologi PETRONAS (UTP), yakni Dr. Basith, Dr. Bambang, Dr. Dedi, dan Prof. Yeni, pertemuan dengan Dr. Nasir dalam rangkaian kunjungan Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (DTGD FT UGM) ke Malaysia menjadi momen untuk mengenang perjalanan akademik sekaligus hubungan personal yang tetap terjaga setelah bertahun-tahun berlalu.

Bagi keempat alumni tersebut, Dr. Nasir bukan hanya sosok pembimbing yang mendampingi penyelesaian studi, tetapi juga mentor yang memberikan teladan, membuka kesempatan, dan mendukung perkembangan mereka sebagai akademisi maupun profesional. Kisah mereka memperlihatkan bahwa hubungan antara dosen pembimbing dan mahasiswa dapat terus tumbuh, bahkan setelah masa studi berakhir.

Bimbingan yang Membentuk Karakter dan Integritas

Bagi Prof. Yeni, pengalaman dibimbing oleh Dr. Nasir meninggalkan kesan mendalam, terutama melalui keteladanan, kesabaran, dan ketelitian beliau. Bimbingan yang diberikan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter sebagai peneliti yang jujur dan berintegritas.

Salah satu nasihat yang terus diingat Yeni adalah pentingnya mengutamakan kebermanfaatan ilmu dan menjadi pribadi yang baik sebelum berusaha menjadi pribadi yang pintar. Baginya, nilai-nilai tersebut menjadi bekal yang relevan, tidak hanya dalam menjalankan pekerjaan akademik, tetapi juga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kedekatan mereka pun tidak berhenti setelah studi selesai. Yeni mengenang bahwa Dr. Nasir bersama keluarganya pernah datang ke Yogyakarta saat pengukuhan profesornya. Bagi Yeni, hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang terjalin selama masa studi telah berkembang menjadi ikatan personal yang tetap terpelihara.

Ia memaknai hubungan antara pembimbing dan mahasiswa sebagai hubungan orang tua dan anak dalam lingkup akademik. Menurutnya, alumni perlu terus menjaga silaturahmi dan menghormati guru karena keberkahan ilmu juga berkaitan dengan penghargaan terhadap orang-orang yang telah membimbing perjalanan mereka.

Kesabaran yang Menumbuhkan Kemandirian dan Produktivitas

Pengalaman Dr. Bambang bersama Dr. Nasir juga memperlihatkan bagaimana bimbingan yang konsisten dapat mendorong produktivitas akademik. Selama kurang lebih dua tahun menjalani bimbingan, Bambang mengingat kesempatan untuk menghasilkan enam publikasi bersama dalam seminar atau konferensi nasional dan internasional, serta satu artikel jurnal yang terindeks Scopus.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam prosesnya mempelajari penulisan artikel ilmiah dan membangun rekam jejak publikasi. Tidak hanya memberikan arahan akademik, Dr. Nasir juga membuka kesempatan bagi Bambang untuk memperluas jejaring dengan lingkungan universitas.

Menurut Dr. Bambang, hubungan yang baik antara pembimbing dan mahasiswa dibangun melalui kemampuan untuk saling memahami dan menempatkan diri secara tepat. Ia juga mengenang kedekatan mereka yang berlanjut di luar kegiatan akademik.

Dukungan Akademik yang Membuka Jalan

Bagi Dr. Dedi, salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika makalah hasil studinya dipresentasikan oleh Dr. Nasir dalam konferensi ION GNSS pada 2008. Dr. Dedi mengenang pengalaman tersebut sebagai langkah penting dalam perjalanan publikasinya, karena menjadi awal rekam jejak publikasi ilmiah terindeks Scopus yang ia miliki.

Dukungan Dr. Nasir tidak hanya dirasakan dalam kegiatan penelitian. Dr. Dedi juga mengenang bagaimana sang pembimbing memberikan dukungan positif ketika ia mulai membangun kehidupan berkeluarga. Sikap yang sabar, kemampuan memberikan arahan, serta keterbukaan untuk saling memahami membuat hubungan mereka berkembang melampaui relasi formal antara dosen dan mahasiswa.

Bagi Dr. Dedi, hubungan tersebut terbangun melalui sikap saling menghargai. Semangat mahasiswa dalam menjalankan penelitian bertemu dengan kesediaan pembimbing untuk memberikan arahan dan dukungan. Kedekatan yang terbentuk selama studi pun terus berlanjut hingga saat ini.

Lebih dari Bimbingan: Dukungan Nyata bagi Penelitian

Sementara itu, Dr. Basith mengenang pengalaman yang menunjukkan sisi lain dari proses bimbingan akademik. Bagi Dr. Basith, pengalaman bersama Dr. Nasir menggambarkan bagaimana seorang pembimbing dapat mendorong mahasiswa untuk menyelesaikan tanggung jawab akademiknya tanpa kehilangan sikap mengayomi. Ia juga mengingat besarnya dukungan Dr. Nasir dalam membantu penyediaan data topografi Malaysia yang saat itu terbatas untuk kebutuhan penelitiannya.

Dukungan tersebut bahkan mencakup pengajuan dana penelitian untuk menunjang kegiatan riset Basith. Bantuan dalam penyediaan data, dukungan pendanaan, dan keterlibatan dalam kegiatan lapangan menunjukkan bahwa proses bimbingan dapat mencakup berbagai aspek yang diperlukan mahasiswa untuk menyelesaikan penelitian.

Basith juga mengenang kedekatan Dr. Nasir dengan para mahasiswa bimbingannya, termasuk kunjungan ke rumah dan keterlibatan mereka dalam kegiatan survey camp. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari kenangan akademik yang terus melekat setelah masa studi berakhir.

Menjaga Hubungan, Meneruskan Keteladanan

Kisah Prof. Yeni, Dr. Bambang, Dr. Dedi, dan Dr. Basith memperlihatkan beragam bentuk dukungan yang dapat diberikan seorang pembimbing: keteladanan dalam menjaga integritas, kesabaran dalam menghadapi tantangan penelitian, kesempatan untuk membangun rekam jejak publikasi, hingga dukungan konkret dalam penyediaan data dan pendanaan riset.

Pertemuan kembali dalam rangkaian kunjungan DTGD FT UGM ke Malaysia menjadi kesempatan untuk mengenang kontribusi tersebut sekaligus memperbarui silaturahmi yang telah terjalin sejak masa studi. Bagi para alumni, pertemuan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga mengingat kembali nilai-nilai yang mereka bawa dalam perjalanan akademik dan profesional masing-masing.

Departemen Teknik Geodesi UGM Kunjungi PEJUTA Malaysia, Bahas Pengembangan Profesi Surveyor dan Kolaborasi Internasional

Berita Kamis, 15 Oktober 2026

Kuala Lumpur, Malaysia — 14 Oktober 2026 — Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (DTGD FT UGM) melaksanakan kunjungan ke Persatuan Juruukur Tanah Bertauliah Malaysia (PEJUTA) di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 waktu setempat ini bertujuan untuk memahami sistem pengembangan profesi dan lisensi juru ukur di Malaysia sekaligus menjajaki peluang kerja sama antara akademisi dan asosiasi profesi di bidang geospasial. Rombongan DTGD FT UGM dipimpin oleh Prof. Trias Aditya dan disambut oleh jajaran pengurus PEJUTA, termasuk LSr Azhar bin Husain selaku Treasurer PEJUTA. Dalam sesi pembuka, Pak Azhar memaparkan sejarah, visi, misi, serta peran PEJUTA dalam mendukung pengembangan profesi juru ukur tanah bertauliah di Malaysia.

Dalam pemaparannya, Pak Azhar menjelaskan bahwa PEJUTA berperan sebagai wadah bagi para juru ukur untuk mengembangkan kompetensi, menjaga kualitas profesi, serta mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga profesional di bidang survei dan pemetaan. Peran tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan pelatihan, kursus, dan pengembangan profesional berkelanjutan. PEJUTA juga mendorong agar para juru ukur yang memiliki keahlian dan lisensi dapat menjalankan profesinya sesuai kompetensi serta memperoleh pengakuan yang layak. Selain pengembangan kompetensi, PEJUTA menaruh perhatian pada regenerasi profesi. Generasi muda diharapkan semakin memahami pentingnya peran juru ukur dalam pembangunan dan tertarik untuk berkarier di bidang geospasial. PEJUTA juga mendorong peningkatan daya saing keahlian juru ukur agar kompetensi yang dimiliki anggotanya dapat memenuhi kebutuhan profesi, termasuk dalam lingkup internasional.

Dalam pemaparannya, PEJUTA turut menjelaskan sembilan bidang survei dan pemetaan yang menjadi perhatian, yaitu Airborne Survey and Mapping, Survey and Mapping for GIS, Survey and Mapping for BIM, Hydrographic Survey and Mapping, Survey and Mapping for Engineering, Terrestrial Survey and Mapping, Underground Survey and Mapping, Geodetic Survey, serta Topographic Survey and Mapping. Beragam bidang tersebut menunjukkan luasnya cakupan keahlian juru ukur dalam mendukung pembangunan, pengelolaan informasi geospasial, dan berbagai kebutuhan teknis lainnya. Sektor konstruksi menjadi salah satu sektor yang banyak membutuhkan jasa juru ukur berlisensi.

Setelah sesi pemaparan, Prof. Trias Aditya menyampaikan maksud kunjungan DTGD FT UGM, khususnya untuk memahami skema lisensi profesi (licensing scheme) bagi juru ukur di Malaysia. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah jalur yang perlu ditempuh oleh lulusan sarjana geodesi untuk memperoleh lisensi profesi dan menjalankan praktik sebagai juru ukur bertauliah. Menanggapi pertanyaan tersebut, Pak Azhar menjelaskan bahwa lulusan sarjana perlu terlebih dahulu mendaftar sebagai Orang Beratikel (AP), kemudian menjalani pengalaman praktik melalui penugasan atau proyek yang relevan. Setelah terdaftar selama dua tahun sebagai AP, peserta dapat mengikuti proses pemeriksaan atau ujian sebagai bagian dari tahapan untuk memperoleh lisensi profesi. Penjelasan ini memberikan gambaran mengenai pentingnya pengalaman praktik dan pemenuhan persyaratan profesional dalam jalur sertifikasi juru ukur di Malaysia.

Diskusi juga menyoroti perkembangan teknologi dan tantangan baru dalam profesi geospasial. LSr Mohd Latif bin Zainal selaku Secretary General PEJUTA menambahkan bahwa asosiasi perlu terus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam bidang geospasial. PEJUTA mulai memberikan perhatian pada pemahaman dan pemanfaatan AI untuk mendukung bidang geodesi, geomatika, dan kadaster. Perkembangan tersebut menjadi salah satu topik potensial untuk dikaji bersama oleh asosiasi profesi dan institusi pendidikan. Kunjungan berlangsung dalam suasana diskusi yang interaktif. Sejumlah topik teknis turut dibahas oleh para peserta, antara lain Smart Monitoring System dalam diskusi antara Pak Azhar dan Dr. Bilal Ma’ruf, serta Law of the Sea dalam diskusi antara LSr Mohd Nazam bin Sulaiman dan Dr. I Made Andi Arsana. Pertukaran gagasan tersebut membuka ruang untuk saling berbagi pengalaman dan memperluas perspektif mengenai penerapan ilmu geospasial dalam berbagai bidang.

Pada akhir pertemuan, PEJUTA dan DTGD FT UGM menyampaikan keterbukaan untuk menjajaki kerja sama dan pengembangan kegiatan bersama. Kedua pihak saling mengundang untuk berpartisipasi dalam kegiatan akademik dan profesional, termasuk konferensi yang diselenggarakan oleh DTGD FT UGM maupun kegiatan yang melibatkan para ahli dari PEJUTA. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia akademik dan asosiasi profesi serta membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan kompetensi, dan kerja sama internasional di bidang geodesi dan geospasial.

Departemen Teknik Geodesi UGM Jajaki Kolaborasi Akademik dengan Industri melalui Kunjungan ke Topcon Malaysia

Berita Selasa, 13 Oktober 2026

Selangor, Malaysia — 13 Oktober 2026 — Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (DTGD FT UGM) melaksanakan kunjungan industri ke Topcon Positioning Asia (Malaysia) di Selangor, Malaysia. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–14.00 waktu setempat ini bertujuan untuk mengenal perkembangan teknologi dan instrumen survei geospasial terkini, memahami kebutuhan industri, serta menjajaki peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri. Rombongan dosen DTGD FT UGM disambut oleh jajaran staf Topcon Malaysia. Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan salah satu alumni DTGD FT UGM, Christanto Michael Nainggolan, yang saat ini bekerja di Topcon.

Kegiatan diawali dengan pemaparan profil DTGD FT UGM oleh Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof. Ir. Trias Aditya. Dalam pemaparannya, Prof. Trias memperkenalkan profil departemen dan program studi, sekaligus menyampaikan tujuan kunjungan sebagai upaya memperkuat pemahaman sivitas akademika terhadap perkembangan teknologi di industri geospasial. Prof. Trias menekankan pentingnya memahami bagaimana teknologi instrumen digunakan untuk mengamati dan mengukur dunia secara akurat. Hal tersebut menjadi salah satu alasan bagi DTGD FT UGM untuk terus mengikuti perkembangan teknologi industri, termasuk instrumen TLS, GNSS, serta teknologi SLAM. Sejumlah teknologi tersebut juga relevan dengan kegiatan pendidikan dan penelitian di DTGD FT UGM. Pada kesempatan tersebut, Prof. Trias menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Topcon Malaysia atas sambutan serta fasilitas yang diberikan kepada rombongan.

Agenda berikutnya diisi dengan pemaparan profil perusahaan oleh Singh Gil Jespal, Regional Manager Topcon Malaysia. Ia menjelaskan bahwa teknologi Topcon digunakan dalam berbagai sektor kehidupan, antara lain kesehatan, infrastruktur, dan pertanian. Topcon Positioning Asia (Malaysia) juga menjalankan berbagai fungsi pendukung operasional di kawasan, termasuk distribusi peralatan, layanan purnajual, pelatihan, serta dukungan regional untuk demonstrasi produk. Layanan dan dukungan tersebut menjangkau berbagai pasar, termasuk Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Taiwan. Dalam sesi tersebut, Singh Gil Jespal turut memperkenalkan lini produk terbaru Topcon, mulai dari instrumen survei hingga perangkat lunak pendukung. Beberapa teknologi yang dibahas mencakup perkembangan terbaru pada perangkat SLAM dan RTS. Ia juga menyampaikan keterbukaan Topcon terhadap peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal, mencoba, dan melakukan penelitian menggunakan instrumen Topcon.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengenalan produk (product introduction) yang dipandu oleh Christanto Michael Nainggolan. Pada sesi ini, rombongan diperkenalkan dengan berbagai teknologi dalam lini produk Topcon, termasuk solusi otomasi survei, instrumen GNSS, RTS, Layout Navigator, dan TLS generasi terbaru. Dosen-dosen DTGD FT UGM mengikuti sesi dengan antusias dan berdiskusi mengenai fungsi, penerapan, serta potensi pemanfaatan berbagai instrumen tersebut dalam kegiatan pembelajaran dan penelitian.

Diskusi juga membuka peluang pengembangan kerja sama yang lebih konkret, salah satunya melalui program Kerja Praktik (KP) bagi mahasiswa DTGD FT UGM di Topcon. Kolaborasi semacam ini diharapkan dapat memperluas pengalaman mahasiswa dalam mengenal lingkungan kerja profesional, memahami penerapan teknologi geospasial di industri, serta menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan kebutuhan di lapangan.

Setelah sesi pengenalan produk, rombongan melanjutkan kunjungan ke fasilitas Topcon Instruments (M) Sdn. Bhd. – Eyecare. Di fasilitas tersebut, dosen DTGD FT UGM mendapatkan penjelasan mengenai proses kalibrasi dan pengendalian mutu (quality control) instrumen sebelum peralatan diserahkan kepada pelanggan. Peninjauan ini memberikan gambaran langsung mengenai pentingnya pengujian, ketelitian pengukuran, dan prosedur penjaminan mutu dalam menjaga kinerja serta keandalan instrumen survei.

Kunjungan industri ke Topcon Malaysia memberikan kesempatan bagi dosen DTGD FT UGM untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai perkembangan teknologi geospasial dan penerapannya di dunia industri. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat memperkaya materi perkuliahan, memperkuat keterkaitan antara pembelajaran dan kebutuhan profesional, serta mendukung pengembangan penelitian yang relevan dengan perkembangan teknologi terkini.

123…5

Agenda

November 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
« Okt    

Berita Terakhir

  • Angkat Topik Machine Learning dan Nilai Tanah, Udiana Wahyu Deviantari Selesaikan Studi Doktor Geomatika UGM
  • Departemen Teknik Geodesi FT UGM Luluskan 12 Wisudawan Pascasarjana Periode I TA 2026/2027
  • Laboratorium Survei Keteknikan DTGD FT UGM Terima Kunjungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan
  • Aksi Nyata Reuni KATDESI 2026: Salurkan Air Bersih dan Toren Penampung untuk Warga Gunungkidul
  • Perkuat Standarisasi Pendidikan Teknik Geodesi, APTTEGGI Gelar Rapat di FIT ISI & GEODETA 2026
Universitas Gadjah Mada

Departemen Teknik Geodesi

Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Jl. Grafika no.2 Bulaksumur, Yogyakarta, 55281
  (+62274) 520226
  geodesi@ugm.ac.id

Direktori

  • Universitas Gadjah Mada
  • Fakultas Teknik UGM
  • Jurnal JGISE

Tautan

  • Jurnal Geodesi
  • Katdesi
  • KMTG
  • Geodeta UGM

Sosial Media

  • Instagram
  • Twiter
  • Facebook
  • Email

Saran dan Masukan

  • Aspirasi UGM

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY