Universitas Gadjah Mada Departemen Teknik Geodesi
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Apa itu Teknik Geodesi?
    • Sejarah DTGD
    • Visi dan Misi Departemen
    • Stuktur Organisasi
    • Dosen
    • Staf Tenaga Kependidikan
  • Program Studi
    • Sarjana Teknik Geodesi
    • Magister Teknik Geomatika
    • Doktor Teknik Geomatika
    • International Undergraduate Program of Geodetic Engineering
  • Kemahasiswaan
    • Admisi
    • Organisasi Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Tinggal di Jogja
  • Riset dan Publikasi
    • Kelompok Bidang Keahlian
      • Lab/KBK Survei Keteknikan
      • Lab/KBK Hidrografi
      • Lab/KBK Geodesi Geometri dan Geodesi Fisis
      • Lab/KBK Kadaster dan Teknik Geoinformatika
      • Lab/KBK Teknik Fotogrametri dan Penginderaan Jauh
    • Penelitian-Pengabdian Masyarakat
    • Jurnal JGISE
    • Konferensi CGISE
    • Geo-Land-SEA 2023
  • Layanan
    • SIJAMU DTGD
      • Dashboard Geomatika
    • Safety, Health, and Environment (SHE)
    • Layanan Akademik
    • Perpustakaan Terpadu UGM
    • Layanan TI
    • Fasilitas Pendukung
    • Hasil Survei
  • Beranda
  • SDGs7
  • SDGs7
Arsip:

SDGs7

Studi Baru NCKU dan UGM: Faktor Lingkungan Pemicu Kecelakaan Pejalan Kaki Berbeda di Setiap Kelompok Usia

BeritaPenelitian Senin, 8 Juni 2026

Yogyakarta, 8 Juni 2026,  Sebuah penelitian kolaboratif terbaru yang digawangi oleh peneliti dari National Cheng Kung University (NCKU) Taiwan dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Indonesia mengungkapkan bahwa faktor risiko kecelakaan yang dihadapi pejalan kaki di perkotaan sangat dipengaruhi oleh faktor usia dan persepsi lingkungan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal internasional Transport Policy (Elsevier) pada 8 Juni 2026 ini mengonfirmasi bahwa kebijakan keselamatan jalan raya tidak bisa disamaratakan bagi semua usia. Dipimpin oleh I Gede Brawiswa Putra, Pei-Fen Kuo, dan Febrian Fitryanik Susanta, riset ini menganalisis 11.220 data kecelakaan pejalan kaki di 223 persimpangan berlampu lalu lintas di Kota Taipei sepanjang periode 2015–2020.

Memadukan “Kamera Pintar” dan Persepsi Manusia

Berbeda dengan penelitian konvensional yang hanya melihat data fisik infrastruktur (seperti lebar trotoar atau rambu-rambu), studi ini memanfaatkan teknologi Street View Imagery (SVI) dan platform SVI Percept. Melalui pendekatan ini, tim peneliti berhasil mengukur elemen subjektif atau bagaimana manusia melihat dan merasakan lingkungan sekitarnya, meliputi lima indikator:

  • Kelayakan jalan kaki (walkability)
  • Keamanan yang dirasakan (perceived safety)
  • Keasrian kota (greenness)
  • Kenyamanan visual (pleasantness)
  • Kelayakan bersepeda (bikeability)

Data tersebut kemudian dipetakan secara spasial menggunakan metode statistik mutakhir Multiscale Geographically Weighted Negative Binomial Regression (MGWNBR) untuk melihat variasi risiko di tingkat lokal.

Beda Usia, Beda Pemicu Kecelakaan

Penelitian menemukan pola geografis dan infrastruktur yang sangat kontras di antara kelompok umur pejalan kaki:

1. Anak-anak dan Remaja

  • Anak-Anak (1–14 Tahun): Angka kecelakaan banyak terkonsentrasi di sekitar lingkungan sekolah, toko kelontong (convenience store), dan persimpangan dengan fase lampu lalu lintas yang rumit. Hal ini selaras dengan karakteristik anak-anak yang kemampuan kognitifnya masih berkembang dalam menilai kecepatan kendaraan.
  • Remaja (15–24 Tahun): Lebih banyak terlibat kecelakaan di kawasan komersial besar (seperti pusat perbelanjaan/department store) dan pusat transportasi umum seperti stasiun MRT. Kelompok ini memiliki mobilitas mandiri yang tinggi namun rentan terhadap perilaku berjalan yang terdistraksi (misalnya menggunakan ponsel).

2. Orang Dewasa dan Lansia

  • Dewasa (25–54 Tahun): Risiko kecelakaan erat kaitannya dengan lingkungan berorientasi ritel, penyedia jasa, serta fungsi kelayakan jalan kaki (walkability) umum.
  • Paruh Baya & Lansia (Di atas 55 Tahun): Kelompok usia lanjut menunjukkan sensitivitas yang sangat tinggi terhadap pengaturan waktu lampu lalu lintas, rasa aman lingkungan (perceived safety), wilayah pinggiran kota (suburban), serta kepadatan lalu lintas sepeda motor.

“Bagi lansia, kenyamanan subjektif dan kejelasan visual jalan sangat memengaruhi keputusan mereka saat menyeberang. Adanya arus sepeda motor yang padat dan cepat di persimpangan menjadi tantangan besar mengingat kecepatan jalan dan respons fisik lansia yang cenderung menurun,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Rekomendasi Kebijakan Tata Kota yang Responsif Usia

Melalui temuan ini, para peneliti menekankan pentingnya desain kota yang humanis dan sensitif terhadap perbedaan usia. Kebijakan keselamatan jalan tidak lagi efektif jika hanya mengandalkan satu aturan seragam untuk seluruh wilayah kota.

Area di sekitar sekolah membutuhkan penyederhanaan fase lampu lalu lintas dan zona selamat sekolah. Sementara itu, kawasan yang ramah terhadap lansia memerlukan perpanjangan durasi hijau bagi penyeberang jalan, infrastruktur penyeberangan yang ramah fisik, serta manajemen khusus pada persimpangan yang padat kendaraan roda dua.

Sumber : https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0967070X26002453

Berjaya di Nasional, Mahasiswa Magister Teknik Geomatika UGM Wakili Indonesia di Panggung ASEAN

BeritaKegiatan Mahasiswa Selasa, 3 Maret 2026

Empat mahasiswa/i Magister Teknik Geomatika UGM membuktikan kepiawaiannya dengan menjuarai lomba di tingkat nasional. Karenanya, keempatnya kini mewakili Indonesia untuk ajang yang sama di Tingkat ASEAN. Adalah Mohammad Zulfi R. Putra, Najieda Azka, Raffi Satya Nugraha, dan Salzabila Enzal Putri, empat mahasiswa S2 fast track (jalur cepat) yang mengikuti lomba bertajuk ASEAN Geospatial Challenges (AGC) mulai tahun 2025 dan dilanjutkan di tahun 2026. Keempatnya tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya GEOSPECTERA.

Ajang kompetisi AGC ini dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap nasional dan tahap regional ASEAN. Keempat mahasiswa Magister Teknik Geomatika UGM mengusung tema pemodelan tiga dimensi berbasis kecerdasan buatan untuk asesmen atap bangunan untuk kepentingan valuasi pajak bangunan dan penghitungan potensi pembangkit Listrik tenaga surya. Dalam Bahasa Inggris, judul karya mereka adalah “AI-Based 3D Modeling for Rooftop Photovoltaic Potential Assessment and Property Tax Valuation”.

Ketika ditanya soal inovasi yang ditawarkan, mereka menjawab bahwa pada dasarnya yang mereka lakukan adalah melakukan identifikasi jenis atap bangunan melalui citra satelit secara otomatis dengan bantuan kecerdasan buatan. Secara teknis, yang mereka lakukan adalah segmentasi dan klasifikasi. Singkatnya, dengan pendekatan yang mereka kembangkan, dapat dihasilkan informasi jenis atap bangunan secara cepat dan dengan akurasi yang memadai. Keberhasilan mengidentifikasi atap bangunan ini merupakan hal penting yang kemudian diterapkan untuk berbagai aplikasi. Dalam hal ini, mereka menggunakannya untuk asesmen valuasi pajak bangunan dan menghitung potensi pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya.

Juri di level nasional melihat gagasan keempat mahasiswa ini cukup menjanjikan dan mengganjar mereka sebagai jawara. Presentasi mereka pada tanggal 1 Desember 2025 secara daring mengantar mereka menjadi pemenang setelah berhasil mengungguli sembilan finalis lainnya. Dari sepuluh kelompok peserta, panitia nasional memutuskan untuk menunjuk dua kelompok yaitu Geospectera dan satu kelompok lain untuk mewakili Indonesia di Tingkat ASEAN.

Suasana berlatih mandiri sebelum pelaksanaan paparan final

Di Tingkat nasional, penghargaan atas prestasi mereka diberikan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) pada tanggal 19 Desember 2025. Dalam pemberian apresiasi tersebut, pihak BIG selaku panitia nasional memberikan arahan dan harapan agar mahasiswa UGM ini berjuang secara maksimal. Sejak itu, keempatnya menyiapkan diri dengan baik untuk tampil di panggung ASEAN. Fokus persiapannya adalah pemaparan gagasan secara baik dalam waktu yang terbatas. Selama persiapan, mereka didampingi oleh dosen sekaligus Kaprodi Magister Teknik Geomatika, Dr. I Made Andi Arsana. Mereka melakukan latihan intensif berkali-kali sampai mereka merasa nyaman dan siap untuk tampil. Selain latihan mandiri, mereka juga menyajikan gagasan mereka pada sebuah forum yang diprakarsai Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM.

Pada tanggal 11 Februari 2026, mereka tampil dengan persiapan matang lewat ajang yang dilaksanakan secara daring. Sebagai bentuk dukungan selain berupa pembimbingan, Departemen Teknik Geodesi menyediakan ruangan khusus untuk mereka bisa melakukan presentasi dengan nyaman. Proses berjalan lancar, keempatnya telah melakukan yang terbaik. Kini mereka menunggu hasilnya. Mari kita doakan agar mereka menjadi yang terbaik di panggung ASEAN.

Agenda

Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
« Jul    

Berita Terakhir

  • KATDESI Inspirasi Mahasiswa Baru DTGD UGM Melalui Talkshow Karier dan Penguatan Jejaring Alumni
  • Wisuda Periode IV TA 2025/2026, Teknik Geodesi FT UGM Meluluskan 57 Sarjana Baru
  • Info Day Teknik Geodesi UGM Bekali Mahasiswa Baru S1 dan S2 dengan Pengenalan Program Studi dan Perkuliahan
  • Pelatihan Pembuatan Model 3D LOD 3 Departemen Teknik Geodesi FT UGM Resmi Selesai
  • FT UGM Selesaikan Rangkaian Kegiatan Pionir Kesatria 2026
Universitas Gadjah Mada

Departemen Teknik Geodesi

Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Jl. Grafika no.2 Bulaksumur, Yogyakarta, 55281
  (+62274) 520226
  geodesi@ugm.ac.id

Direktori

  • Universitas Gadjah Mada
  • Fakultas Teknik UGM
  • Jurnal JGISE

Tautan

  • Jurnal Geodesi
  • Katdesi
  • KMTG
  • Geodeta UGM

Sosial Media

  • Instagram
  • Twiter
  • Facebook
  • Email

Saran dan Masukan

  • Aspirasi UGM

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY