Yogyakarta, 8 Juni 2026, Sebuah penelitian kolaboratif terbaru yang digawangi oleh peneliti dari National Cheng Kung University (NCKU) Taiwan dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Indonesia mengungkapkan bahwa faktor risiko kecelakaan yang dihadapi pejalan kaki di perkotaan sangat dipengaruhi oleh faktor usia dan persepsi lingkungan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal internasional Transport Policy (Elsevier) pada 8 Juni 2026 ini mengonfirmasi bahwa kebijakan keselamatan jalan raya tidak bisa disamaratakan bagi semua usia. Dipimpin oleh I Gede Brawiswa Putra, Pei-Fen Kuo, dan Febrian Fitryanik Susanta, riset ini menganalisis 11.220 data kecelakaan pejalan kaki di 223 persimpangan berlampu lalu lintas di Kota Taipei sepanjang periode 2015–2020.
Memadukan “Kamera Pintar” dan Persepsi Manusia
Berbeda dengan penelitian konvensional yang hanya melihat data fisik infrastruktur (seperti lebar trotoar atau rambu-rambu), studi ini memanfaatkan teknologi Street View Imagery (SVI) dan platform SVI Percept. Melalui pendekatan ini, tim peneliti berhasil mengukur elemen subjektif atau bagaimana manusia melihat dan merasakan lingkungan sekitarnya, meliputi lima indikator:
- Kelayakan jalan kaki (walkability)
- Keamanan yang dirasakan (perceived safety)
- Keasrian kota (greenness)
- Kenyamanan visual (pleasantness)
- Kelayakan bersepeda (bikeability)
Data tersebut kemudian dipetakan secara spasial menggunakan metode statistik mutakhir Multiscale Geographically Weighted Negative Binomial Regression (MGWNBR) untuk melihat variasi risiko di tingkat lokal.
Beda Usia, Beda Pemicu Kecelakaan
Penelitian menemukan pola geografis dan infrastruktur yang sangat kontras di antara kelompok umur pejalan kaki:
1. Anak-anak dan Remaja
- Anak-Anak (1–14 Tahun): Angka kecelakaan banyak terkonsentrasi di sekitar lingkungan sekolah, toko kelontong (convenience store), dan persimpangan dengan fase lampu lalu lintas yang rumit. Hal ini selaras dengan karakteristik anak-anak yang kemampuan kognitifnya masih berkembang dalam menilai kecepatan kendaraan.
- Remaja (15–24 Tahun): Lebih banyak terlibat kecelakaan di kawasan komersial besar (seperti pusat perbelanjaan/department store) dan pusat transportasi umum seperti stasiun MRT. Kelompok ini memiliki mobilitas mandiri yang tinggi namun rentan terhadap perilaku berjalan yang terdistraksi (misalnya menggunakan ponsel).
2. Orang Dewasa dan Lansia
- Dewasa (25–54 Tahun): Risiko kecelakaan erat kaitannya dengan lingkungan berorientasi ritel, penyedia jasa, serta fungsi kelayakan jalan kaki (walkability) umum.
- Paruh Baya & Lansia (Di atas 55 Tahun): Kelompok usia lanjut menunjukkan sensitivitas yang sangat tinggi terhadap pengaturan waktu lampu lalu lintas, rasa aman lingkungan (perceived safety), wilayah pinggiran kota (suburban), serta kepadatan lalu lintas sepeda motor.
“Bagi lansia, kenyamanan subjektif dan kejelasan visual jalan sangat memengaruhi keputusan mereka saat menyeberang. Adanya arus sepeda motor yang padat dan cepat di persimpangan menjadi tantangan besar mengingat kecepatan jalan dan respons fisik lansia yang cenderung menurun,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Rekomendasi Kebijakan Tata Kota yang Responsif Usia
Melalui temuan ini, para peneliti menekankan pentingnya desain kota yang humanis dan sensitif terhadap perbedaan usia. Kebijakan keselamatan jalan tidak lagi efektif jika hanya mengandalkan satu aturan seragam untuk seluruh wilayah kota.
Area di sekitar sekolah membutuhkan penyederhanaan fase lampu lalu lintas dan zona selamat sekolah. Sementara itu, kawasan yang ramah terhadap lansia memerlukan perpanjangan durasi hijau bagi penyeberang jalan, infrastruktur penyeberangan yang ramah fisik, serta manajemen khusus pada persimpangan yang padat kendaraan roda dua.
Sumber : https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0967070X26002453