Jakarta, 2 November 2026 – Upaya mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah gambut terus diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) ke-2 bertajuk “Penguatan Kolaborasi Para Pihak dalam Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Berbasis Tata Kelola Air KHG” yang diselenggarakan pada Jumat, 2 November 2026, di Hotel Le Meridien, Jakarta. Acara strategis ini dihadiri oleh perwakilan kementerian terkait, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Bank Dunia, serta para pakar dan akademisi dari berbagai universitas di Sumatera dan Kalimantan.
Diskusi ini menyoroti pergeseran paradigma penanganan karhutla dari sekadar pemadaman menuju pencegahan proaktif, di mana tata kelola air dan pembasahan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) menjadi instrumen utamanya. Kebutuhan penambahan infrastruktur sekat kanal dan sumur bor darurat, khususnya di lahan konsesi dan Area Penggunaan Lain (APL), masih sangat krusial dan mendesak. Dalam forum tersebut, Prof. Trias Aditya dari Universitas Gadjah Mada mempresentasikan pengembangan Dashboard / Decision Support System (DSS) dan pemodelan neraca air yang dirancang untuk menentukan prioritas intervensi KHG, mendesain sekat kanal secara presisi, hingga mengestimasi anggaran. Merespons hal tersebut, para pakar universitas memberikan masukan strategis, seperti Prof. Sigit Sutikno (UNRI) yang menyoroti kerentanan KHG kepulauan di Riau karena minimnya area tangkapan air, serta Prof. Edi Armanto (Unsri) yang menekankan pentingnya mempertimbangkan jenis komoditas dalam manajemen neraca air. Di samping itu, Prof. Ahmad Kurnain (ULM) mengusulkan integrasi neraca biomassa, sementara pakar lain seperti Prof. Asmadi Saad (UNJA) dan Dr. Hendrik Segah (Univ. Palangka Raya) menyatakan kesiapan menyuplai data lapangan (ground-checking, TMAT, LiDAR, dan drone) guna memvalidasi akurasi sistem DSS tersebut.
Guna menunjang sistem yang komprehensif, Wakil Kepala BPGMN menekankan pentingnya kebijakan satu data terpadu lintas kementerian melalui sistem terpadu, yang kelak berfungsi sebagai clearing house sekaligus knowledge hub untuk pengambilan keputusan secara cepat. Hal ini turut didukung oleh usulan Prof. Gusti Zakaria (UNTAN) agar sistem juga memuat dimensi sosial dan aktivitas Masyarakat Peduli Api (MPA) sehingga pencegahan dapat dikelola berbasis komunitas. Menutup agenda, Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut KLH, Ir. Edi Nugroho Santoso, menegaskan bahwa seluruh masukan akan diintegrasikan untuk memfinalisasi rencana induk pencegahan karhutla, mengingat musim kemarau di beberapa wilayah diprediksi akan tiba dalam tiga bulan ke depan sehingga implementasi kolaborasi infrastruktur pembasahan di lapangan harus segera dipacu.
