Universitas Gadjah Mada Departemen Teknik Geodesi
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Apa itu Teknik Geodesi?
    • Sejarah DTGD
    • Visi dan Misi Departemen
    • Stuktur Organisasi
    • Staf Pengajar
    • Staf Tenaga Kependidikan
  • Program Studi
    • Sarjana Teknik Geodesi
    • Magister Teknik Geomatika
    • Doktor Teknik Geomatika
    • International Undergraduate Program of Geodetic Engineering
  • Kemahasiswaan
    • Admisi
    • Organisasi Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Tinggal di Jogja
  • Riset dan Publikasi
    • Kelompok Bidang Keahlian
      • Lab/KBK Survei Keteknikan
      • Lab/KBK Hidrografi
      • Lab/KBK Geodesi Geometri dan Geodesi Fisis
      • Lab/KBK Kadaster dan Teknik Geoinformatika
      • Lab/KBK Teknik Fotogrametri dan Penginderaan Jauh
    • Penelitian-Pengabdian Masyarakat
    • Jurnal JGISE
    • Konferensi CGISE
    • Geo-Land-SEA 2023
  • Layanan
    • SIJAMU DTGD
      • Dashboard Geomatika
    • Safety, Health, and Environment (SHE)
    • Layanan Akademik
    • Perpustakaan Terpadu UGM
    • Layanan TI
    • Fasilitas Pendukung
    • Hasil Survei
  • Beranda
  • SDGs14
  • SDGs14
Arsip:

SDGs14

Dr. I Made Andi Arsana Bahas Kesiapan Indonesia dalam Pemanfaatan Deep Seabed Mining di NRGS Talk Episode 2

Berita Rabu, 8 April 2026

Yogyakarta, 8 April 2026 – I Made Andi Arsana, dosen Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), menjadi narasumber dalam Podcast NRGS Talk Episode 2 yang mengangkat tema “Indonesia dan Kesiapan Menuju Pemanfaatan Deep Seabed Mining”. Podcast ini merupakan bagian dari seri diskusi yang diselenggarakan oleh Natural Resources Governance Studies.

Dalam episode bertajuk “Mineral dari Samudra: Masa Depan Energi dan Teknologi”, Dr. I Made Andi Arsana membahas secara komprehensif potensi besar sumber daya mineral laut Indonesia, serta tantangan dalam mengoptimalkan pemanfaatannya. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki landasan historis dan hukum yang kuat atas sumber daya kelautannya. Namun demikian, menurut beliau, kepemilikan hak tersebut saja belum cukup untuk menjamin terwujudnya manfaat ekonomi dan strategis secara nyata.

Dalam diskusi tersebut, I Made Andi Arsana menekankan tiga pilar utama yang perlu dibangun Indonesia agar mampu mengelola potensi deep seabed mining secara optimal, yaitu penguatan regulasi yang komprehensif, penguasaan teknologi yang memadai, serta pengembangan kerja sama global yang strategis. Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara aspek kedaulatan negara dan keterbukaan terhadap kolaborasi internasional, khususnya dalam menghadapi kompleksitas eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral di dasar laut yang membutuhkan teknologi tinggi serta investasi besar.

Podcast ini memberikan wawasan mendalam mengenai arah kebijakan dan kesiapan Indonesia dalam menghadapi masa depan energi berbasis sumber daya laut, sekaligus menjadi ruang diskusi akademik yang relevan dengan isu global di bidang geospasial, kelautan, dan tata kelola sumber daya alam. Masyarakat dan sivitas akademika dapat menyaksikan diskusi lengkap tersebut melalui kanal resmi YouTube berikut: Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman publik terhadap potensi dan tantangan pengelolaan sumber daya laut Indonesia semakin meningkat, serta mendorong lahirnya kebijakan yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

CESASS Talk UGM Bahas Batas Maritim dan Kolaborasi ASEAN di Era Tanpa Batas

Berita Selasa, 31 Maret 2026

Yogyakarta, 31 Maret 2026 — Center for Southeast Asian Studies (CESASS) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar forum diskusi melalui program CESASS Talk #53. Kegiatan ini mengangkat tema “Talking Borders in a Borderless ASEAN” yang menyoroti isu batas maritim dan kerja sama regional. Forum ini terbuka bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, hingga praktisi yang tertarik pada dinamika kawasan ASEAN.

Diskusi ini menghadirkan I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D. sebagai pembicara utama dari Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, UGM. Ia membahas berbagai aspek terkait batas maritim, tata kelola laut, serta pentingnya kerja sama regional dalam mengelola sumber daya laut. Menurutnya, pemahaman yang komprehensif mengenai batas wilayah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan kawasan.

Dalam pemaparannya, Andi menekankan bahwa konsep “tanpa batas” dalam ASEAN bukan berarti menghilangkan batas negara, melainkan memperkuat kolaborasi lintas negara. Ia menjelaskan bahwa kerja sama regional dapat mendorong pengelolaan wilayah laut yang lebih efektif dan berkelanjutan. Selain itu, pendekatan berbasis data geospasial dinilai penting dalam mendukung pengambilan keputusan di sektor kelautan.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Randy Wirasta Nandyatama, S.IP., M.Sc., Ph.D. dari Departemen Hubungan Internasional UGM. Ia memandu jalannya diskusi dengan mengangkat berbagai isu strategis yang relevan dengan kondisi kawasan saat ini. Interaksi antara moderator dan pembicara membuat diskusi berlangsung dinamis dan mudah dipahami oleh peserta.

CESASS Talk #53 diselenggarakan secara hybrid, memungkinkan peserta untuk mengikuti kegiatan baik secara langsung maupun daring. Sesi luring berlangsung di Indonesia Room, CESASS UGM, sementara peserta daring bergabung melalui platform Zoom. Format ini memberikan fleksibilitas bagi peserta dari berbagai lokasi untuk tetap terlibat dalam diskusi.

Peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung, terutama dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan terkait implementasi kerja sama regional serta tantangan dalam pengelolaan batas maritim. Hal ini menunjukkan tingginya minat terhadap isu kelautan dan hubungan internasional di kawasan ASEAN.

Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat memperkaya pemahaman peserta mengenai dinamika batas wilayah dan kerja sama regional. Selain itu, forum ini diharapkan mampu mendorong lahirnya gagasan baru dalam pengelolaan sumber daya laut. Dengan diskusi yang berkelanjutan, kontribusi akademisi dalam isu strategis kawasan diharapkan semakin meningkat.

Ke depan, isu batas maritim dan tata kelola laut diperkirakan akan semakin kompleks seiring dengan perkembangan geopolitik dan ekonomi kawasan. Oleh karena itu, kolaborasi antarnegara dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam menjawab tantangan tersebut. Program seperti CESASS Talk dinilai strategis dalam membangun pemahaman bersama di tingkat regional.

Mengupas Sengkarut Batas Maritim Arktik: Perspektif Baru dari Pakar Hukum dan Geodesi Global

BeritaPenelitian Sabtu, 10 Januari 2026

Dinamika kedaulatan di Samudra Arktik menjadi topik utama pada artikel ilmiah yang bertajuk “Maritime limits and boundaries in the Arctic Ocean: agreements and disputes”. Karya kolaboratif ini disusun oleh beberapa peneliti, Clive Schofield, Ted L. McDorman, dan I Made Andi Arsana, yang resmi dipublikasikan pada 6 Januari 2026 dalam Handbook of the Politics of the Arctic (hal. 48-72).

Artikel ini hadir di tengah meningkatnya perhatian global terhadap wilayah kutub utara, di mana tumpang tindih klaim wilayah sering kali berkelindan dengan perebutan akses sumber daya alam yang melimpah. Dalam naskah setebal 24 halaman tersebut, para penulis membedah secara mendalam garis pangkal (baselines) serta klaim yurisdiksi maritim dari enam negara pantai Arktik. Fokus utama diarahkan pada analisis teknis dan legal terkait hak landas kontinen yang menjorok lebih dari 200 mil laut dari garis pantai—sebuah area kritis yang sering menjadi titik picu ketegangan internasional.

Tak sekadar memaparkan teori, studi ini memberikan tinjauan komprehensif mengenai status terkini perbatasan maritim di pusat Samudra Arktik, mulai dari batas-batas yang telah disepakati hingga wilayah yang masih menyisakan sengketa yurisdiksi. Analisis tajam yang disajikan memberikan kerangka kerja bagi para diplomat dan pengambil kebijakan dalam menavigasi tumpang tindih klaim yang belum terselesaikan di kawasan yang sangat sensitif secara geopolitik ini.

Secara substansial, kontribusi pemikiran ini selaras dengan agenda pembangunan global berkelanjutan. Artikel ini mendukung implementasi SDG 14 (Ekosistem Laut) melalui penekanan pada kepastian hukum untuk pengelolaan sumber daya laut. Selain itu, kajian ini menjadi pilar bagi pencapaian SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) dengan mendorong penyelesaian sengketa melalui jalur hukum internasional yang kuat. Semangat kolaborasi lintas pakar dalam karya ini juga merefleksikan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang menekankan pentingnya kerja sama multidisiplin dalam memecahkan isu batas wilayah di kancah global.

Link Artikel: https://doi.org/10.4337/9781035333714.00011

Tim PPM Geolive FT UGM Serahkan Hasil Pemetaan Kawasan Pantai Bandengan kepada Pemerintah Kabupaten Jepara

BeritaPenelitian Jumat, 12 Desember 2025

Jepara, 11 Desember 2025 — Tim Penelitian Geolive Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), yang tergabung sebagai salah satu Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Kolaboratif FT UGM serta Tim PPM Departemen Teknik Geodesi FT UGM, melaksanakan kegiatan penyerahan hasil PPM kepada Pemerintah Kabupaten Jepara pada Kamis, 11 Desember 2025. Kegiatan PPM ini diketuai oleh Dr. Ir. Bilal Ma’ruf dan berfokus pada penyediaan data geospasial kawasan pesisir, khususnya Pantai Bandengan, Kabupaten Jepara.

Penyerahan hasil PPM dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi akademik perguruan tinggi dalam mendukung perencanaan dan pengelolaan wilayah berbasis data spasial yang akurat dan mutakhir. Dalam kegiatan tersebut, Tim PPM menyerahkan sejumlah produk pemetaan yang telah dihasilkan melalui proses akuisisi data, pengolahan, dan analisis geospasial secara sistematis.

Adapun produk utama yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Jepara meliputi Peta Orthophoto kawasan Pantai Bandengan, Peta Eksisting Tata Ruang, serta Peta Pariwisata Kawasan Pantai Bandengan Jepara. Peta orthophoto dihasilkan dari pemetaan berbasis wahana tanpa awak (UAV) dengan resolusi tinggi, sehingga mampu merepresentasikan kondisi permukaan wilayah secara detail dan presisi. Sementara itu, peta eksisting tata ruang dan peta pariwisata disusun sebagai informasi tematik yang mendukung pemahaman kondisi pemanfaatan ruang serta potensi pengembangan kawasan pesisir dan pariwisata.

Hasil pemetaan ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara sebagai data dasar pendukung perencanaan kawasan pesisir, penataan ruang, serta pengembangan pariwisata Pantai Bandengan secara berkelanjutan. Selain itu, ketersediaan data geospasial yang akurat juga diharapkan dapat membantu proses pengambilan keputusan yang lebih objektif, terukur, dan berbasis bukti.

Melalui kegiatan PPM ini, Tim Penelitian Geolive FT UGM menegaskan komitmennya dalam mengintegrasikan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan teknologi dan analisis geospasial. Kolaborasi antara FT UGM, Departemen Teknik Geodesi, dan Pemerintah Daerah diharapkan dapat terus berlanjut guna mendukung pembangunan wilayah pesisir yang tertata, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Kuliah Tamu dan Promosi Program Double Degree dengan Universitas Glasgow

BeritaKuliah Umum Sabtu, 25 Oktober 2025

Yogyakarta, 21 Oktober 2025 – Kemajuan kerja sama antara Fakultas Teknik UGM dan Universitas Glasgow (UG) telah ditunjukkan dengan telah terselenggaranya program gelar ganda (double degree) antara keduanya. Kemajuan dan keberhasilan ini disambut baik oleh kedua belah pihak dengan melaksanakan pertemuan pada tanggal 21 dan 22 Oktober 2025.

UG hadir di Fakultas Teknik UGM diwakili oleh dua orang akademisi yaitu Dr. Paul R. Eizenhofer, Dr. Henrik Hesse, dan satu administrator yaitu Ms. Sophia. Ketiganya datang untuk menindaklanjuti kerja sama gelar ganda antara beberapa departemen di Fakultas Teknik UGM dan UG. Salah satu aktivitas utama terkait kedatangan mereka ke UGM adalah untuk mempromosikan program gelar ganda tersebut.

Pada tanggal 21 Oktober 2025, Fakultas Teknik UGM menyelenggarakan rangkaian acara sesi berbagi informasi terkait program gelar ganda di semua departemen, termasuk Magister Teknik Geomatika. Acara tersebut dilengkapi juga dengan kuliah tamu dari kedua akademisi UGM didampingi oleh akademisi UGM yaitu Dr. I Made Andi Arsana yang merupakan Ketua Program Studi Magister Teknik Geomatika serta Dr. Adha Imam Cahyadi dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi.

Keempat pembicara menyajikan hasil penelitian mereka yang merupakan salah satu bidang kajian di program magister yang mereka kelola. Acara ini sekaligus untuk memperkenalkan kepada calon mahasiswa sehingga mereka bisa memahami apa yang akan dipelajari kelak. Dr. Eizenhofer menyajikan penelitiannya terkait pegunungan (mountain ranges) dan respon biotiknya menggunakan pendekatan ilmu dan teknologi kebumian. Dr. Hesse menyampaikan penelitiannya terkait pesawat nir awak (drones) untuk berbagai aplikasi. Perwakilan dari Magister Teknik Geomatika, Dr. I Made Andi Arsana, menyajikan hasil penelitian terkait batas maritim yang merupakan kajian di salah salah satu konsentrasi yaitu Pemetaan dan Manajemen Wilayah Perbatasan. Dr. Cahyadi menyajikan penelitiannya yang terkait dengan drones dan navigasi robot.

Secara khusus terkait tema paparannya, Dr. Arsana menyatakan bahwa selain sebagai tema penting dalam salah satu konsentrasi di Magister Teknik Geomatika, tema batas maritim ini terkait erat dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goal (SGDs). Beberapa tujuan utama yang terkait erat dengan tema ini adalah  tujuan 14, (Kehidupan dan Bawah Air), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) karena dapat memengaruhi kegiatan ekonomi seperti perikanan dan pariwisata, serta Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) karena dapat berdampak pada ekosistem laut dan pesisir. Selain itu, isu ini terkait erat dengan Tujuan 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan infrastruktur maritim dan teknologi kelautan, serta Tujuan 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh).

Acara kuliah tamu yang diselenggarakan di Gedung SGLC Fakultas Teknik UGM tersebut dihadiri oleh puluhan mahasiswa. Selain kuliah tamu dan sesi informasi, salah satu yang menarik adalah sesi berbagi pengalaman yang disampaikan oleh salah satu mahasiswa program Double Degree Magister Teknik Geomatika yaitu Hyatma Adikara. Hyatma merupakan mahasiswa pertama untuk program double degree antara UGM dan UG yang mulai menempuh pendidikan di semester gasal tahun ajaran 2025/2026. Dia berbagi pengalamannya ketika mendaftar program double degree ini sekaligus perjuangannya dalam mendapatkan beasiswa LPDP untuk membiaya program pendidikannya.

Acara tanggal 21 Oktober 2025 ditutup dengan diskusi dan tanya jawab. Peserta tampak antusias memberikan respons dalam bentuk pertanyaan. Pada dasarnya mereka tertarik dengan program gelar ganda yang diadakan oleh Fakultas Teknik UGM dengan beberapa program di UG. Seperti disampaikan oleh Prof Bertha Maya Sopha, Manajer Pengembangan Akademik dan Kerja Sama Fakultas Teknik UGM, semua program double degree ini dibiaya oleh LPDP dan informasi lebih lanjut terkait program ini bisa didapatkan dari website masing-masing program studi. Dr. Arsana menambahkan bahwa, khusus untuk program double degree Magister Teknik Geomatika, informasinya dapat diperoleh dari ugm.id/DDGeomatikaUGM.

UGM Selenggarakan Kuliah Tamu Internasional tentang Hukum Perbatasan dan Kolonialisme di Selat Malaka

Berita Kamis, 23 Oktober 2025

Yogyakarta, 21 Oktober 2025 — Program Magister Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kuliah tamu internasional bertajuk “Borders without Consent: Uti Possidetis Juris and the Silence of the Colonised – with Special Reference to the Strait of Malacca”. Acara ini menghadirkan narasumber Assoc. Prof. Dr. Mohd Hazmi Bin Mohd Rusli, Head Researcher dari International Law Unit, Faculty of Syariah and Law, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Dalam paparannya, Dr. Mohd Hazmi menguraikan konsep hukum internasional Uti Possidetis Juris yang berperan penting dalam pembentukan batas wilayah negara pascakolonial. Ia menyoroti bagaimana konsep tersebut diterapkan tanpa persetujuan masyarakat lokal selama masa kolonialisme, termasuk dalam penetapan batas di kawasan Asia Tenggara seperti Selat Malaka. Melalui kajian sejarah perjanjian-perjanjian penting seperti Treaty of Tordesillas (1494), Anglo-Dutch Treaty (1824), hingga Anglo-Siamese Treaty (1909), narasumber menjelaskan bagaimana warisan kolonial tersebut masih memengaruhi batas maritim modern antara Malaysia, Indonesia, dan Thailand.

Kuliah ini juga membahas dinamika perbatasan maritim terkini antara Indonesia dan Malaysia yang hingga kini belum memiliki kesepakatan batas Exclusive Economic Zone (EEZ) di bagian utara Selat Malaka. Ketidakjelasan batas tersebut, menurut beliau, berimplikasi terhadap aktivitas nelayan di wilayah yang dikenal sebagai grey area.

Acara yang berlangsung di Ruang III.3 Departemen Teknik Geodesi UGM pada pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa pascasarjana, serta praktisi bidang geospasial dan hukum laut. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan mendalam mengenai keterkaitan antara hukum internasional, sejarah kolonial, dan tantangan geospasial dalam pengelolaan batas negara di kawasan Asia Tenggara.

Tim Geodesi UGM Paparkan Rencana Penelitian dan Pengabdian di Kulon Progo

Berita Selasa, 29 Juli 2025

Kulon Progo, 28 Juli 2025 – Tim Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Departemen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada mengunjungi Kantor Bupati Kulon Progo untuk mempresentasikan sejumlah rencana kegiatan. Tim memperkenalkan program pemetaan orthofoto berbasis UAV untuk mendukung percepatan PBT terintegrasi di Desa Kanoman. Tim juga menawarkan pemetaan potensi bencana di Kapanewon Samigaluh serta pemetaan potensi desa untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Selain itu, tim menyiapkan studi dinamika muka tanah menggunakan InSAR dan pemanfaatan garam di wilayah pesisir Kulon Progo.

Bupati Kulon Progo menyambut kedatangan tim Geodesi UGM dengan penuh apresiasi. Bupati mendengarkan paparan program secara langsung dan memahami manfaat kegiatan bagi daerah. Bupati mempersilakan seluruh kegiatan dilaksanakan di wilayah Kulon Progo sesuai rencana. Untuk mendukung keberlangsungan program, Bupati juga menugaskan beberapa staf pemerintah daerah agar mendampingi pelaksanaan di lapangan.

Tim Geodesi UGM menjadikan pertemuan ini sebagai sarana perkenalan awal dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Tim menegaskan komitmen untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan di daerah. Program penelitian dan pengabdian diharapkan mampu meningkatkan kapasitas mitigasi bencana dan pemanfaatan sumber daya lokal. Dengan kolaborasi ini, tim optimis dapat memperkuat peran Kulon Progo dalam pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs, khususnya:

SDG 2: Tanpa Kelaparan (pemetaan potensi desa dan pertanian)

SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (studi dinamika muka tanah dan bandara)

SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (pemetaan bencana dan desa)

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (mitigasi risiko bencana)

SDG 14: Ekosistem Lautan (pemanfaatan garam di pesisir)

SDG 15: Ekosistem Daratan (pemetaan potensi desa dan penggunaan lahan)

Edukasi Partisipatif Jadi Kunci Ketahanan Iklim Komunitas Kepulauan: Studi Kasus Sangihe

BeritaPenelitian Sabtu, 21 Juni 2025

Yogyakarta, Juni 2025 – Dosen Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Leni Sophia Heliani dan Bondan Galih Dewanto, bersama tim lintas disiplin UGM, mempublikasikan artikel berjudul “Institutionalizing Climate Change Adaptation and Mitigation Through Education in a Small Island Context: A Case Study of South Tabukan, Sangihe Islands”. Artikel ini terbit di Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement), Vol. 11 No. 2, Juni 2025. Publikasi ini menegaskan kontribusi Geodesi UGM dalam riset berbasis pengabdian masyarakat untuk penguatan kapasitas adaptasi iklim di wilayah kepulauan kecil.

Penelitian ini berangkat dari kerentanan Kepulauan Sangihe terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari cuaca ekstrem hingga degradasi ekosistem laut dan daratan. Tim melakukan pendekatan pendidikan partisipatif melalui empat klaster program, yaitu kesehatan, agro, sains dan teknologi, serta sosial budaya. Intervensi yang dilakukan mencakup peta risiko bencana, agroforestry, rehabilitasi terumbu karang dengan teknologi Bioreeftek, pengelolaan sampah, serta pembentukan kelompok kerja iklim lokal. Hasilnya, masyarakat Tabukan Selatan berhasil membentuk ProKlim Working Group yang terintegrasi ke dalam struktur desa dengan dukungan dana dan program berkelanjutan.

Temuan ini membuktikan bahwa pendidikan dan institusionalisasi program iklim mampu meningkatkan ketahanan komunitas kepulauan kecil. Program yang dirancang tidak hanya memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi cuaca ekstrem, tetapi juga memulihkan ekosistem daratan dan laut melalui partisipasi lintas generasi. Penelitian ini mendukung pencapaian SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 14 (Ekosistem Lautan), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dengan memberikan model adaptasi iklim berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di pulau kecil lainnya di Indonesia.

https://scholar.google.com/citations?view_op=view_citation&hl=en&user=0JvcXp4AAAAJ&sortby=pubdate&citation_for_view=0JvcXp4AAAAJ:XD-gHx7UXLsC

Perbatasan Indonesia–Malaysia: Antara Tantangan Hukum dan Peluang Kerja Sama

Kuliah Umum Senin, 26 Mei 2025

Yogyakarta – Isu pengelolaan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia menjadi sorotan dalam kuliah tamu bertajuk “”Waters Without Borders? Legal Complexities in Malaysia-Indonesia Maritime Zone” yang disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Mohd Hazmi bin Mohd Rusli, dosen dan peneliti senior pada International Law Unit, Faculty of Syariah and Law, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Kuliah ini dilaksanakan secara daring pada Senin, 26 Mei 2025 pukul 13.00 WIB melalui platform Zoom.

Acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Magister Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari perkuliahan bertema Manajemen Perbatasan dan Delimitasi Batas Maritim. Ketua Program Studi, Dr. I Made Andi Arsana, membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya pembelajaran lintas disiplin dalam memahami isu-isu batas negara yang melibatkan aspek hukum, diplomasi, serta teknologi geospasial.

Dalam pemaparannya, Dr. Hazmi menekankan bahwa perbatasan bukan hanya persoalan teknis di atas peta, melainkan juga ruang interaksi yang penuh dinamika antara negara-negara. Salah satu kunci dalam mengelola ketegangan di wilayah perbatasan, menurutnya, adalah membangun saling pengertian. “Ketika kita saling mengenal, ketegangan bisa diredam. Perbatasan tak selalu harus menjadi wilayah konflik,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa isu perbatasan merupakan hal yang jamak terjadi di berbagai negara. Selain Indonesia–Malaysia, ia mencontohkan hubungan antara Malaysia dan Filipina terkait klaim atas Sabah. Hal ini menunjukkan bahwa perbatasan adalah persoalan geopolitik yang memerlukan pengelolaan cermat dan kerja sama jangka panjang.

Kuliah ini mengundang antusiasme tinggi dari para mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang akademik. Dengan pendekatan yang menggabungkan pengalaman praktis dan pemahaman hukum laut internasional, Dr. Hazmi berhasil memberikan wawasan komprehensif mengenai peluang kerja sama kawasan, tantangan delimitasi, serta pentingnya integrasi data geospasial dalam mendukung penyelesaian isu perbatasan.

Dengan terselenggaranya kuliah tamu ini, Program Studi Magister Teknik Geomatika UGM berharap dapat terus memperkuat kolaborasi antara dunia akademik di kedua negara, Malaysia dan Indonesia, guna mendukung pengelolaan perbatasan yang berkeadilan, berdaulat, dan berkelanjutan.

Analisis Akademisi Teknik Geodesi UGM Soroti Implikasi Deklarasi Garis Pangkal Tiongkok terhadap Stabilitas Laut Cina Selatan

BeritaPenelitian Jumat, 9 Mei 2025

Yogyakarta, 8 Mei 2025 – Artikel berjudul “China Declares Straight Baselines around Scarborough Reef” resmi terbit di The International Journal of Marine and Coastal Law. Publikasi ini ditulis oleh Warwick Gullett dan Clive Schofield, dengan melibatkan Dr. I Made Andi Arsana, dosen Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM, sebagai salah satu penulis. Keterlibatan dosen Geodesi UGM dalam artikel ini menunjukkan kontribusi nyata dalam diskursus hukum laut internasional, khususnya di kawasan Laut Cina Selatan.

Artikel ini menganalisis langkah Tiongkok yang pada 10 November 2024 mendeklarasikan garis pangkal lurus (straight baselines) di sekitar Karang Scarborough. Karang ini merupakan salah satu fitur insular paling krusial di Laut Cina Selatan dan telah lama menjadi sumber konflik laut antara Tiongkok dan Filipina. Penelitian menunjukkan bahwa deklarasi garis pangkal ini memperdalam sengketa hukum laut internasional dan memiliki implikasi strategis lebih luas, terutama terkait kepemilikan dan klaim atas Kepulauan Spratly.

Kajian ini menegaskan bahwa langkah Tiongkok tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral dengan Filipina, tetapi juga pada stabilitas kawasan dan dinamika hukum laut global. Analisis yang dilakukan memberikan perspektif penting tentang bagaimana klaim maritim dapat memengaruhi tata kelola laut, keamanan, serta upaya penyelesaian sengketa internasional di kawasan strategis ini.

 SDG 14 – Life Below Water 🌊
→ karena menyangkut pengelolaan laut dan sumber daya maritim yang berkelanjutan.

 SDG 16 – Peace, Justice, and Strong Institutions ⚖️
→ karena isu ini berkaitan dengan perdamaian, penyelesaian sengketa secara hukum, dan tata kelola laut internasional yang adil.

https://scholar.google.com/citations?view_op=view_citation&hl=en&user=x2N_jBcAAAAJ&sortby=pubdate&citation_for_view=x2N_jBcAAAAJ:7Hz3ACDFbsoC

12

Agenda

Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
« Apr    

Berita Terakhir

  • Hadirkan Praktisi, Teknik Geodesi UGM Bedah Strategi Membangun Kadaster Lengkap Indonesia
  • Mahasiswa IUP Geodesi UGM Mulai Studi di TU München, Perdalami Sistem Administrasi Pertanahan Global
  • Tim Jaminan Mutu DTGD FT UGM Ikuti Sosialisasi LAMTEK “Menuju Akreditasi Unggul 2026”
  • Kuliah Tamu dan Training “Mapping the Future” Bahas SLAM dan Teknologi 3D Scanning di Bidang Geospasial
  • Pertemuan Tim Penelitian GEOLIVE dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jepara Bahas Isu PBB, Infrastruktur, dan Potensi Wilayah
Universitas Gadjah Mada

Departemen Teknik Geodesi

Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Jl. Grafika no.2 Bulaksumur, Yogyakarta, 55281
  (+62274) 520226
  geodesi@ugm.ac.id

Direktori

  • Universitas Gadjah Mada
  • Fakultas Teknik UGM
  • Jurnal JGISE

Tautan

  • Jurnal Geodesi
  • Katdesi
  • KMTG
  • Geodeta UGM

Sosial Media

  • Instagram
  • Twiter
  • Facebook
  • Email

Saran dan Masukan

  • Aspirasi UGM

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY