Yogyakarta, 31 Maret 2026 — Center for Southeast Asian Studies (CESASS) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar forum diskusi melalui program CESASS Talk #53. Kegiatan ini mengangkat tema “Talking Borders in a Borderless ASEAN” yang menyoroti isu batas maritim dan kerja sama regional. Forum ini terbuka bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, hingga praktisi yang tertarik pada dinamika kawasan ASEAN.
Diskusi ini menghadirkan I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D. sebagai pembicara utama dari Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, UGM. Ia membahas berbagai aspek terkait batas maritim, tata kelola laut, serta pentingnya kerja sama regional dalam mengelola sumber daya laut. Menurutnya, pemahaman yang komprehensif mengenai batas wilayah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan kawasan.
Dalam pemaparannya, Andi menekankan bahwa konsep “tanpa batas” dalam ASEAN bukan berarti menghilangkan batas negara, melainkan memperkuat kolaborasi lintas negara. Ia menjelaskan bahwa kerja sama regional dapat mendorong pengelolaan wilayah laut yang lebih efektif dan berkelanjutan. Selain itu, pendekatan berbasis data geospasial dinilai penting dalam mendukung pengambilan keputusan di sektor kelautan.
Kegiatan ini dimoderatori oleh Randy Wirasta Nandyatama, S.IP., M.Sc., Ph.D. dari Departemen Hubungan Internasional UGM. Ia memandu jalannya diskusi dengan mengangkat berbagai isu strategis yang relevan dengan kondisi kawasan saat ini. Interaksi antara moderator dan pembicara membuat diskusi berlangsung dinamis dan mudah dipahami oleh peserta.
CESASS Talk #53 diselenggarakan secara hybrid, memungkinkan peserta untuk mengikuti kegiatan baik secara langsung maupun daring. Sesi luring berlangsung di Indonesia Room, CESASS UGM, sementara peserta daring bergabung melalui platform Zoom. Format ini memberikan fleksibilitas bagi peserta dari berbagai lokasi untuk tetap terlibat dalam diskusi.
Peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung, terutama dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan terkait implementasi kerja sama regional serta tantangan dalam pengelolaan batas maritim. Hal ini menunjukkan tingginya minat terhadap isu kelautan dan hubungan internasional di kawasan ASEAN.
Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat memperkaya pemahaman peserta mengenai dinamika batas wilayah dan kerja sama regional. Selain itu, forum ini diharapkan mampu mendorong lahirnya gagasan baru dalam pengelolaan sumber daya laut. Dengan diskusi yang berkelanjutan, kontribusi akademisi dalam isu strategis kawasan diharapkan semakin meningkat.
Ke depan, isu batas maritim dan tata kelola laut diperkirakan akan semakin kompleks seiring dengan perkembangan geopolitik dan ekonomi kawasan. Oleh karena itu, kolaborasi antarnegara dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam menjawab tantangan tersebut. Program seperti CESASS Talk dinilai strategis dalam membangun pemahaman bersama di tingkat regional.