Yogyakarta, 1 Juli 2026 – Sekelompok peneliti dari Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (FT UGM), melakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko kerusakan pada bangunan bersejarah. Untuk mengantisipasi dampak pelapukan alami serta ulah tangan jahil manusia terhadap situs cagar budaya, tim yang beranggotakan Muhammad Rifky Reza, Renaldy Aditya Putra Ramadhan, Salsabila Atalieani Andiana, dan Septiya Nur Hasmar berinisiatif merekam data fisik Stasiun Kalimenur di Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, secara digital.
Langkah tersebut perlu segera dilakukan mengingat stasiun yang sudah tidak beroperasi itu memiliki nilai historis tinggi sebagai satu-satunya peninggalan arsitektur khas Staatsspoorwegen di jalur kereta api Yogyakarta – Kulon Progo. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 586/A/2018 tanggal 19 Desember 2018. Kondisi fisik bangunan peninggalan kolonial tersebut saat ini dilaporkan mengalami penurunan kualitas, antara lain kerusakan atap, pelapukan pada langit-langit dan lantai, serta vandalisme berupa coretan pada beberapa bagian dinding.
Tim Teknik Geodesi UGM menerapkan konsep inovatif berupa pendekatan instrumen majemuk berbiaya rendah (low-cost multi-instrument) untuk mengatasi tingginya biaya penggunaan alat survei konvensional seperti LiDAR. Pengambilan data visual di lapangan dilakukan dengan menggabungkan tiga perangkat fotografi, yaitu drone untuk memetakan struktur atap dari udara, kamera mirrorless untuk menangkap detail ornamen bagian luar secara tajam, dan kamera 360 derajat untuk merekam keseluruhan ruang interior.
Seluruh dokumentasi foto tersebut selanjutnya diolah menggunakan algoritma Structure-from-Motion Multi-View Stereo (SfM-MVS). Hasil akhir pengolahan data ini berupa replika digital dalam bentuk model tiga dimensi (3D) dengan tingkat kelengkapan dan kualitas visual yang cukup baik, meskipun tingkat akurasi geometrinya baru mencapai level sentimeter.
Melalui publikasi hasil kajiannya, tim peneliti membuktikan bahwa proses pemodelan arsitektur kuno yang efisien dan berkualitas tidak selalu bergantung pada perangkat survei yang mahal. Upaya digitalisasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan data jangka panjang yang andal, baik untuk kepentingan pendidikan, riset lanjutan, pengelolaan pariwisata daerah, maupun sebagai cetak biru rekonstruksi fisik apabila bangunan asli stasiun tersebut mengalami kerusakan total di kemudian hari.
Link artikel : https://journal.ugm.ac.id/v3/mft/article/view/26370