Dosen sekaligus peneliti dari Departemen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM), Calvin Wijaya, S.T., M.Eng. bersama Prof. Dr. Ir. Harintaka, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., secara resmi mempublikasikan hasil riset mendalam mengenai inovasi teknologi penginderaan jauh dalam Geoid Journal of Geodesy and Geomatics (Volume 21, Nomor 1, 2026) pada 20 Januari 2026. Studi bertajuk “Evaluation of Google Earth Engine Embedding Dataset for Remote Sensing Image Classification” ini mengevaluasi efektivitas dataset embedding terbaru dari Alpha Earth Foundation yang terintegrasi pada platform Google Earth Engine (GEE). Penelitian ini bertujuan untuk menguji sejauh mana model pembelajaran mesin canggih dapat mengoptimalkan klasifikasi citra satelit dibandingkan dengan metode konvensional yang selama ini digunakan.

Intisari dari penelitian ini mengungkapkan bahwa dataset embedding mampu mencapai tingkat akurasi klasifikasi yang sangat tinggi, yakni sebesar 94%. Capaian tersebut secara signifikan melampaui performa instrumen satelit global yang umum digunakan, seperti Landsat 9 yang mencatatkan akurasi 83,1% dan Sentinel-2 dengan 82,5%. Melalui uji coba yang dilakukan di wilayah Yogyakarta dan Cilacap, teknologi ini terbukti mampu menghasilkan peta tutupan lahan yang lebih bersih dari gangguan visual (noise) serta lebih akurat dalam merepresentasikan objek di lapangan, mulai dari area perkotaan hingga ekosistem hutan mangrove yang kompleks tanpa memerlukan proses segmentasi gambar yang rumit.
Penerapan teknologi pemetaan presisi ini memberikan kontribusi strategis dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 15 mengenai Ekosistem Daratan (Life on Land). Dengan tersedianya instrumen pemetaan yang jauh lebih akurat, inovasi ini memfasilitasi otoritas terkait dalam melakukan pemantauan penggunaan lahan secara seketika (real-time) dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih terukur. Penemuan ini diharapkan menjadi standar baru bagi para praktisi geospasial global dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperkuat kebijakan perlindungan keanekaragaman hayati dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Link artikel: https://doi.org/10.12962/geoid.v21i1.8151