Klaten, 15 Februari 2026 – Tim peneliti dari Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan pengukuran GNSS low-cost reflectometry di kawasan Rowo Jombor pada tanggal 14–15 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program RIIM (Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju) Gelombang 8 dengan fokus penelitian pemantauan level air menggunakan teknologi refleksi sinyal GNSS untuk mitigasi bencana banjir serta pengelolaan sumber daya energi air dalam rangka peningkatan ketahanan pangan. Kegiatan dipimpin oleh Nurrohmat Widjajanti selaku Ketua Tim Peneliti. Turut serta dalam kegiatan ini Cecep Pratama, Susana Okifiani, Iqbal Hanun Azizi, serta Listiyo Fitri.

Kegiatan yang dilaksanakan merupakan uji coba perangkat GNSS low-cost hasil perakitan dan pengembangan mandiri oleh tim peneliti dalam rangka implementasi metode GNSS Reflectometry (GNSS-IR). Uji coba difokuskan pada evaluasi kemampuan alat dalam merekam sinyal refleksi GNSS yang berkaitan dengan dinamika tinggi muka air.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan survei lokasi untuk menentukan titik pengamatan yang memenuhi kriteria teknis GNSS-IR, seperti geometri refleksi sinyal, elevasi antena, serta visibilitas satelit. Selanjutnya, tim melakukan perakitan akhir, konfigurasi, dan kalibrasi awal perangkat di lapangan. Perangkat GNSS kemudian diinstal pada titik strategis di tepi perairan dengan pengaturan tinggi dan orientasi antena yang optimal untuk menangkap sinyal langsung maupun sinyal pantul dari permukaan air. Akuisisi data dilakukan secara kontinu selama periode pengamatan, disertai evaluasi performa sistem, termasuk stabilitas daya, konsistensi perekaman data, dan kualitas sinyal (Signal-to-Noise Ratio/SNR).
Hasil uji coba menunjukkan bahwa perangkat GNSS low-cost yang dikembangkan tim peneliti dapat berfungsi dengan baik dan mampu merekam data observasi GNSS yang memadai untuk analisis reflektometri. Data yang diperoleh memperlihatkan pola interferensi sinyal yang berpotensi digunakan untuk estimasi tinggi muka air. Kondisi perairan yang relatif stabil selama pengamatan turut mendukung proses evaluasi sistem secara optimal. Kegiatan ini menghasilkan sejumlah luaran, antara lain dataset observasi GNSS mentah periode 14–15 Februari 2026, data uji performa perangkat GNSS low-cost, serta dokumentasi koordinat dan konfigurasi instalasi sebagai referensi untuk replikasi pengukuran di lokasi lain.
Hasil pelaksanaan kegiatan ini menjadi dasar evaluasi teknis dan penyempurnaan sistem GNSS low-cost sebelum diterapkan pada skema pemantauan jangka panjang dalam Program RIIM Gelombang 8. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan metode pemantauan level air yang efisien dan berkelanjutan untuk mendukung mitigasi bencana serta pengelolaan sumber daya air di Indonesia.