Klaten, 22 Februari 2026 – Tim peneliti dari Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan pengukuran GNSS untuk validasi metode reflektometri di salah satu segmen hilir Sungai Bengawan Solo yang berlokasi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 21–22 Februari 2026 dan merupakan bagian dari Program RIIM (Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju) Gelombang 8. Penelitian ini dipimpin oleh Nurrohmat Widjajanti selaku Ketua Tim Peneliti. Kegiatan ini turut melibatkan Cecep Pratama, Susana Okifiani, Iqbal Hanun Azizi, serta Listiyo Fitri sebagai bagian dari tim pelaksana lapangan.

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan validasi metode GNSS Reflectometry (GNSS-IR) dalam mengestimasi tinggi muka air pada lingkungan sungai yang memiliki karakteristik aliran dinamis dan fluktuatif. Lokasi pengamatan dipilih pada area yang berdekatan dengan permukiman warga dan memiliki potensi limpasan (overflow) saat terjadi peningkatan debit air, sehingga relevan untuk kajian mitigasi bencana banjir.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan survei lokasi guna mengidentifikasi titik pengamatan yang memiliki visibilitas satelit optimal serta bidang reflektor permukaan air yang representatif. Selanjutnya, tim melakukan instalasi perangkat GNSS pada posisi strategis dengan mempertimbangkan tinggi antena terhadap muka air serta aspek keamanan alat dari potensi kenaikan debit.
Pengamatan dilakukan melalui akuisisi data GNSS secara kontinu untuk merekam sinyal langsung dan sinyal pantul dari permukaan air sungai. Selain itu, tim juga melakukan dokumentasi kondisi hidrologis di lapangan, termasuk karakteristik aliran, lebar sungai, serta kedekatan lokasi dengan area permukiman. Evaluasi awal kualitas data dilakukan melalui analisis parameter signal-to-noise ratio (SNR) sebagai dasar untuk proses analisis reflektometri.
Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa metode GNSS-IR dapat diterapkan pada lingkungan sungai dengan dinamika aliran yang lebih kompleks dibandingkan perairan tergenang. Data observasi yang diperoleh memiliki kualitas yang memadai untuk proses ekstraksi parameter tinggi muka air. Kondisi lokasi yang dekat dengan permukiman juga menegaskan urgensi pengembangan sistem monitoring berbasis GNSS sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko banjir lokal.
Kegiatan ini menghasilkan sejumlah luaran, antara lain dataset observasi GNSS mentah periode 21–22 Februari 2026, data konfigurasi instalasi dan parameter geometrik pengamatan, serta dokumentasi kondisi lapangan sebagai referensi untuk pengukuran lanjutan. Hasil validasi ini selanjutnya akan dianalisis untuk membandingkan estimasi tinggi muka air berbasis GNSS-IR dengan data referensi yang tersedia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan sistem pemantauan tinggi muka air berbasis teknologi GNSS yang lebih adaptif dan aplikatif, khususnya pada wilayah rawan limpasan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.