Yogyakarta, 5 Maret 2026 – Film Setan Alas menjadi salah satu karya kolaboratif yang menunjukkan sinergi kuat antara dunia akademik dan industri kreatif. Film ini melibatkan mahasiswa, dosen, serta sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), dan berhasil menembus berbagai ajang festival internasional.
Salah satu sosok yang turut terlibat dalam film ini adalah I Made Andi Arsana. Keterlibatannya menjadi bukti bahwa kontribusi akademisi tidak terbatas pada ruang kelas dan penelitian, tetapi juga dapat merambah ke industri kreatif seperti perfilman.
Film Setan Alas lahir dari kolaborasi lintas institusi, melibatkan berbagai pihak seperti Jogja Film Academy, MMTC, Amikom, serta sejumlah SMK di Indonesia. Kolaborasi ini mempertemukan ekosistem akademik dan praktisi industri dalam satu produksi nyata yang inovatif dan kompetitif.
Secara capaian, film ini telah meraih berbagai penghargaan pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2023 (JAFF 2023), serta diputar di berbagai festival film internasional. Selain itu, film ini juga mendapatkan perhatian media internasional dan menerima berbagai ulasan positif dari penonton global.
Dari sisi konsep, Setan Alas mengusung pendekatan meta horror, sebuah gaya penceritaan yang masih relatif jarang diangkat dalam perfilman Indonesia. Pendekatan ini menawarkan pengalaman sinematik yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga reflektif dan eksploratif, sehingga memberikan kesan mendalam bagi penonton.
Keberhasilan film ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara kampus dan komunitas kreatif mampu menghasilkan karya yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga berdaya saing di tingkat global. Film ini resmi tayang di bioskop mulai 5 Maret 2026 dan diharapkan dapat menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan industri film Indonesia.