Peneliti ITS Pimpin Studi Global Plasma Bubble, Akademisi UGM Turut Berkontribusi

Yogyakarta, 2 Maret 2026 — Studi internasional mengenai fenomena plasma bubble di ionosfer berhasil mengungkap keterkaitan kuat antara gangguan geomagnetik dan anomali kerapatan elektron. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Applied Geodesy oleh penerbit De Gruyter. Kajian ini menjadi penting karena fenomena ionosfer diketahui berdampak langsung terhadap sistem navigasi satelit dan komunikasi global. Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Mokhamad Nur Cahyadi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sebagai penulis korespondensi. Tim peneliti terdiri dari kolaborasi berbagai institusi dengan latar belakang keilmuan geodesi dan geospasial. Dominasi kontribusi dari ITS menunjukkan kuatnya peran institusi tersebut dalam riset ionosfer di Indonesia.

Di sisi lain, akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut berkontribusi dalam penelitian ini, yakni Prof. Nurrohmat Widjajanti dan Iqbal Hanun Azizi dari Departemen Teknik Geodesi. Keterlibatan mereka memperkuat kolaborasi lintas institusi dalam pengembangan ilmu geodesi di tingkat global. Partisipasi ini juga mencerminkan sinergi antarperguruan tinggi dalam menghasilkan riset berkualitas internasional. Penelitian ini menggunakan data Global Navigation Satellite System Total Electron Content (GNSS-TEC) yang dikombinasikan dengan metode tomografi 3D. Pendekatan ini memungkinkan analisis distribusi spasial dan temporal anomali ionosfer secara lebih detail. Data dikumpulkan dari berbagai wilayah dunia, termasuk Jepang, Australia, Eropa, Brasil, dan Tonga.

Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi negatif yang sangat kuat antara indeks Dst dan ketinggian maksimum anomali TEC akibat plasma bubble. Dengan koefisien korelasi mencapai 0,9949, penelitian ini menegaskan bahwa badai geomagnetik yang lebih kuat akan mendorong terbentuknya plasma bubble pada ketinggian yang lebih tinggi. Temuan ini memberikan pemahaman baru terkait dinamika ionosfer. Selain itu, indeks Kp juga menunjukkan hubungan positif terhadap ketinggian anomali, meskipun dengan tingkat korelasi yang lebih moderat. Fenomena plasma bubble umumnya terjadi pada ketinggian antara 200 hingga 600 kilometer. Rata-rata ketinggian maksimum yang teramati dalam penelitian ini berada di sekitar 500 kilometer.

Penelitian ini memiliki implikasi penting terhadap sistem navigasi berbasis satelit seperti GNSS. Gangguan ionosfer dapat memengaruhi akurasi posisi serta kualitas sinyal komunikasi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap fenomena ini menjadi krusial dalam pengembangan sistem teknologi yang lebih andal. Ke depan, riset mengenai cuaca antariksa dan ionosfer diperkirakan akan semakin berkembang seiring meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi satelit. Kolaborasi lintas institusi, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian ini, menjadi kunci dalam menghasilkan temuan yang komprehensif. Dengan keterlibatan peneliti Indonesia, kontribusi nasional dalam ilmu geodesi global diharapkan semakin kuat.