Kuala Lumpur, Malaysia — Niat awalnya sederhana. Sekadar mengabarkan bahwa rombongan Departemen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang berkunjung ke Malaysia. Bukan meminta pertemuan, apalagi jamuan. Namun, sebuah pesan singkat kepada Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Malaysia justru berujung pada pertemuan hangat di sebuah restoran di Kuala Lumpur. Dari situlah cerita menarik tentang diplomasi pendidikan dimulai.
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 16.30 waktu setempat, rombongan Departemen Teknik Geodesi UGM bertemu dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk Malaysia, Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., di restoran Madam Kwan’s, Kuala Lumpur. Beliau hadir bersama istri dan menjamu rombongan UGM yang berjumlah 18 orang, dipimpin oleh Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof. Trias Aditya. Dua mitra industri, Bapak Ricky dan Bapak Madiono, juga turut hadir.
Pertemuan tersebut bermula ketika Dr. I Made Andi Arsana, salah satu dosen Teknik Geodesi UGM, menghubungi Bapak Ahmad Romadhoni untuk menyampaikan rencana kunjungan rombongan ke Malaysia. Bagi Andi, mengabarkan kedatangan kepada perwakilan Indonesia merupakan bagian dari etika kunjungan akademik. Selain itu, komunikasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dengan dukungan Atase Pendidikan pada masa mendatang.
Respons yang diterima ternyata melampaui harapan. Pak Dhoni, demikian beliau biasa dipanggil, justru berinisiatif mengundang seluruh rombongan untuk bertemu dan berbincang bersama.
Cerita di Balik Tugas Seorang Atase Pendidikan
Pertemuan berlangsung santai. Percakapan mengalir dari pengalaman pribadi hingga berbagai persoalan pendidikan Indonesia di Malaysia. Di antara cerita yang dibagikan, ada satu hal yang sangat membekas bagi rombongan UGM, yaitu kompleksitas mengurus pendidikan anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI).
Pak Dhoni menceritakan bahwa sebagian anak PMI menghadapi kesulitan mengakses pendidikan karena tidak memiliki dokumen administrasi yang diperlukan. Persoalan ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam upaya memastikan mereka tetap memperoleh kesempatan belajar.
Cerita tersebut memberikan perspektif yang berbeda tentang pekerjaan seorang Atase Pendidikan. Bagi kalangan perguruan tinggi, kerja sama pendidikan internasional sering kali identik dengan pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, atau program gelar ganda. Namun, dari percakapan sore itu, rombongan UGM memperoleh gambaran bahwa diplomasi pendidikan juga menyangkut persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana membantu anak-anak Indonesia memperoleh kesempatan bersekolah ketika kondisi mereka tidak sesederhana yang dibayangkan.
Di balik istilah diplomasi pendidikan yang terdengar formal, ternyata ada persoalan kemanusiaan yang sangat nyata. Ada anak-anak yang membutuhkan sekolah, ada persoalan administrasi yang tidak mudah diselesaikan, dan ada upaya panjang untuk mencari jalan keluarnya.
Cerita itu menjadi salah satu bagian paling berkesan dari pertemuan tersebut.
Dari Persahabatan hingga Peluang Kolaborasi
Di tengah pembicaraan tentang berbagai tantangan pendidikan, suasana menjadi semakin akrab ketika Pak Dhoni, yang juga adalah dosen Fakultas Peternakan UGM, bercerita tentang masa sekolahnya di SMA Negeri 3 Yogyakarta, yang dikenal sebagai Padmanaba.
Kebetulan, beberapa dosen Teknik Geodesi UGM juga merupakan alumni sekolah yang sama. Kesamaan tersebut segera memunculkan nostalgia tentang Yogyakarta dan membuat percakapan semakin cair.
Sebuah pertemuan yang awalnya dilandasi kepentingan kelembagaan ternyata juga mempertemukan orang-orang dengan kenangan dan pengalaman yang saling beririsan. Tidak semua hal harus dibicarakan dalam suasana resmi untuk menghasilkan hubungan yang baik.
Dalam kesempatan itu, Pak Dhoni juga menyampaikan kesediaannya untuk mendukung penguatan kolaborasi pendidikan antara Indonesia dan Malaysia. Ia mendorong agar hubungan yang telah terbangun dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang nyata.
Bagi Departemen Teknik Geodesi UGM, dukungan tersebut tentu menjadi kabar baik. Malaysia memiliki banyak institusi pendidikan yang relevan untuk dijajaki sebagai mitra akademik. Kehadiran Atase Pendidikan yang terbuka terhadap kolaborasi dapat membantu mempertemukan gagasan dan pihak-pihak yang memiliki kepentingan bersama.
Meski demikian, pertemuan sore itu memang tidak dimaksudkan untuk menghasilkan kesepakatan formal. Tidak ada dokumen yang ditandatangani atau program baru yang langsung diputuskan. Yang terbangun adalah komunikasi, saling pengertian, dan kesediaan untuk menjaga hubungan baik.
Bagi rombongan UGM, hal tersebut sudah merupakan awal yang menggembirakan.
Pertemuan di Madam Kwan’s sore itu meninggalkan dua kesan. Pertama, adanya kepedulian dan kerja nyata di balik tugas diplomasi pendidikan Indonesia di Malaysia, terutama dalam menghadapi persoalan pendidikan anak-anak PMI. Kedua, adanya keterbukaan untuk mendukung kolaborasi akademik yang lebih luas antara kedua negara. Rombongan UGM pulang dengan kesan bahwa urusan pendidikan Indonesia di Malaysia mendapat perhatian dari sosok yang memahami tantangan di lapangan sekaligus terbuka terhadap gagasan kerja sama.
Kini, kesempatan itu perlu ditindaklanjuti dan dimanfaatkan dengan baik. Sebab, terkadang kerja sama yang baik tidak dimulai dari sebuah dokumen resmi, melainkan dari komunikasi sederhana, sambutan yang hangat, dan percakapan yang saling membuka wawasan.