Yogyakarta, 28 April 2026 – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menyelenggarakan kuliah tamu bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Yunani, Dr. Bebeb Abdul Kurnia Nugraha Djundjunan. Kegiatan ini menghadirkan mahasiswa dari berbagai kelas dan program studi, termasuk mahasiswa internasional, dalam sebuah diskusi interaktif mengenai networking, kolaborasi, diplomasi, dan kesiapan menghadapi tantangan global. Kuliah tamu dibuka oleh dosen Departemen Teknik Geodesi FT UGM, Prof. I Made Andi Arsana, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran lintas disiplin. Menurutnya, mahasiswa teknik tidak hanya perlu memahami aspek teknis dan rekayasa, tetapi juga harus mampu membangun jejaring, berkolaborasi, dan memahami dinamika global.
Dalam pengantarnya, Prof. I Made Andi Arsana memperkenalkan Dr. Bebeb Djundjunan sebagai diplomat karier senior yang telah berpengalaman lebih dari tiga dekade di bidang hukum internasional, negosiasi perjanjian, dan urusan maritim. Selama berkarier di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, beliau pernah menjabat sebagai Direktur Hukum dan Perjanjian Kewilayahan serta memimpin berbagai negosiasi batas maritim Indonesia dengan negara tetangga.
Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Sugeng S. Surjono, turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran Duta Besar RI untuk Yunani tersebut. Ia berharap pengalaman diplomasi internasional yang dimiliki narasumber dapat memberikan wawasan baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya kemampuan komunikasi, kerja sama, dan adaptasi di dunia global. Dalam pemaparannya, Dr. Bebeb Djundjunan menekankan bahwa dunia saat ini ditandai oleh dua hal utama, yaitu globalisasi dan digitalisasi. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga harus membangun karakter, profesionalisme, dan kemampuan adaptasi.
“Networking adalah tentang bagaimana kita membangun hubungan, kolaborasi, dan kepercayaan. Saat ini kita tidak hanya bersaing dengan lingkungan sekitar, tetapi dengan miliaran orang di seluruh dunia,” ujarnya. Ia juga menjelaskan pentingnya memiliki global mindset, meningkatkan kapasitas diri secara berkelanjutan, serta berani keluar dari zona nyaman. Menurutnya, mahasiswa perlu aktif membangun jejaring sejak dini melalui organisasi, komunitas, seminar, maupun kegiatan sosial lainnya.
Dalam sesi tersebut, Dr. Bebeb turut membagikan pengalamannya membangun berbagai komunitas dan forum internasional selama bertugas di Athena, Yunani, seperti Indonesian Hellenic Business Forum, Hellenic ASEAN Business Council, hingga komunitas diplomatik berbasis hobi. Pengalaman tersebut menjadi contoh nyata bagaimana networking dapat berkembang menjadi kolaborasi strategis yang mendukung hubungan antarnegara. Selain membahas networking, kuliah tamu juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu. Dr. Bebeb menjelaskan bahwa dunia diplomasi modern membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang, termasuk teknik, sains, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI). Ia mencontohkan bagaimana para ahli teknik turut berperan dalam isu hukum laut, eksplorasi sumber daya alam, hingga pemetaan wilayah maritim.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mahasiswa terkait kerja sama lintas budaya, diplomasi internasional, hingga posisi Indonesia di tengah dinamika global. Menanggapi hal tersebut, Dr. Bebeb menekankan pentingnya sikap saling menghormati, kemampuan mendengar, dan memahami kepentingan berbagai pihak dalam membangun kerja sama.
Pada akhir sesi, Dr. Bebeb memberikan pesan kepada mahasiswa agar terus meningkatkan kapasitas diri dan tidak berhenti belajar. “Gelar akademik hanyalah pintu masuk. Setelah lulus, tantangan sebenarnya dimulai. Bangun kapasitas diri, cari mentor yang baik, dan jadilah pribadi yang memiliki wawasan global,” pesannya. Kuliah tamu ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi mahasiswa FT UGM mengenai pentingnya networking, kolaborasi, dan kesiapan menghadapi dunia global yang semakin dinamis.






