Universitas Gadjah Mada Departemen Teknik Geodesi
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Apa itu Teknik Geodesi?
    • Sejarah DTGD
    • Visi dan Misi Departemen
    • Stuktur Organisasi
    • Dosen
    • Staf Tenaga Kependidikan
  • Program Studi
    • Sarjana Teknik Geodesi
    • Magister Teknik Geomatika
    • Doktor Teknik Geomatika
    • International Undergraduate Program of Geodetic Engineering
  • Kemahasiswaan
    • Admisi
    • Organisasi Mahasiswa
    • Kegiatan Mahasiswa
    • Tinggal di Jogja
  • Riset dan Publikasi
    • Kelompok Bidang Keahlian
      • Lab/KBK Survei Keteknikan
      • Lab/KBK Hidrografi
      • Lab/KBK Geodesi Geometri dan Geodesi Fisis
      • Lab/KBK Kadaster dan Teknik Geoinformatika
      • Lab/KBK Teknik Fotogrametri dan Penginderaan Jauh
    • Penelitian-Pengabdian Masyarakat
    • Jurnal JGISE
    • Konferensi CGISE
    • Geo-Land-SEA 2023
  • Layanan
    • SIJAMU DTGD
      • Dashboard Geomatika
    • Safety, Health, and Environment (SHE)
    • Layanan Akademik
    • Perpustakaan Terpadu UGM
    • Layanan TI
    • Fasilitas Pendukung
    • Hasil Survei
  • Beranda
  • 2026
  • Oktober
  • 19
Arsip 2026:

19 Oktober

Dari Geodesi UGM ke Menara Petronas: Tentang Alumni dan Hubungan yang Terus Terjaga

Berita Senin, 19 Oktober 2026

Kuala Lumpur, Malaysia — Ada banyak cara untuk mengetahui bahwa hubungan antara kampus dan alumninya masih terjaga dengan baik. Salah satunya adalah ketika seorang alumni yang telah lama meninggalkan bangku kuliah justru dengan antusias mengundang dosen-dosen dan adik-adik almamaternya untuk berkunjung ke tempatnya bekerja. Bukan karena ada kewajiban, melainkan karena hubungan baik yang memang tidak pernah benar-benar terputus.

Cerita itulah yang mewarnai kunjungan rombongan Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), ke Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, dalam rangkaian kunjungan akademik pada Oktober 2026.

Rombongan yang berjumlah 18 orang dan dipimpin Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof. Trias Aditya, mendapat sambutan hangat dari Kristiawan Tri Nugroho, yang akrab disapa Mas Wawan. Ia merupakan alumni Teknik Geodesi UGM angkatan 1999 yang kini berkarier sebagai Technical Manager di PETRONAS, perusahaan energi Malaysia.

Dari Geodeta hingga PETRONAS

Bagi sejumlah dosen Geodesi UGM, Mas Wawan bukanlah sosok yang asing. Sejak masih mahasiswa, ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk mengelola Geodeta, majalah mahasiswa Teknik Geodesi UGM.

Keterlibatan tersebut rupanya menjadi bagian dari hubungan panjangnya dengan almamater. Setelah lulus dan membangun karier profesional, komunikasi dengan kampus tetap terjaga.

Dr. I Made Andi Arsana, dosen Teknik Geodesi UGM yang merupakan kakak angkatannya, mengenang bahwa kepedulian Mas Wawan terhadap kampus bukanlah sesuatu yang baru. Dalam salah satu kesempatan, Mas Wawan pernah membantu menyediakan dukungan dana bagi mahasiswa yang membutuhkan biaya untuk mengikuti konferensi akademik. Bantuan seperti ini mungkin tidak selalu menjadi berita besar. Namun, bagi mahasiswa yang sedang berusaha mengembangkan diri, dukungan seorang alumni dapat membuat perbedaan yang nyata.

Kini, Mas Wawan telah memiliki pengalaman lebih dari 19 tahun di bidang geomatika, survei, dan akuisisi data geofisika untuk industri minyak dan gas. Di PETRONAS, ia menjalankan peran kepemimpinan teknis dan konsultansi untuk berbagai kegiatan, baik di darat maupun lepas pantai. Keahliannya mencakup investigasi bahaya geologi, pemantauan struktur, serta pengembangan kemampuan dan teknologi survei. Di tengah kesibukan profesionalnya, ia juga sedang menempuh pendidikan doktoral di bidang Teknik Geomatika di Universiti Teknologi Malaysia.

Perjalanan profesional tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu geomatika dapat membawa lulusannya berkiprah dalam industri energi internasional. Namun, yang menarik dari cerita ini bukan hanya pencapaian kariernya, melainkan juga hubungan baik yang tetap ia rawat dengan kampus tempatnya belajar.

Bertemu Kembali dengan Para Pembimbing

Atas inisiatif Mas Wawan, rombongan UGM mendapat kesempatan berkunjung ke Menara Kembar Petronas. Kegiatan berlangsung dalam suasana santai melalui diskusi informal, kunjungan ke gedung, dan kesempatan berfoto bersama di jembatan yang menghubungkan kedua menara kembar yang menjadi ikon Kuala Lumpur tersebut.

Pertemuan ini juga menghadirkan momen personal yang istimewa. Mas Wawan kembali bertemu dengan Bapak Rochmad Muryamto dan Bapak Abdul Basith, dua dosen yang pernah menjadi dosen wali dan pembimbing skripsinya semasa kuliah.

Bagi seorang alumni, bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah mendampingi perjalanan akademiknya tentu memiliki makna tersendiri. Demikian pula bagi para dosen, melihat mantan mahasiswa berkembang dan berkiprah dalam dunia profesional merupakan pengalaman yang menggembirakan.

Kehangatan kunjungan semakin terasa ketika Mas Wawan menjamu seluruh rombongan untuk makan sore di sebuah restoran di lingkungan Menara Petronas. Jamuan tersebut menjadi perhatian tersendiri karena tidak semua orang berkesempatan menikmati pengalaman serupa di salah satu bangunan paling dikenal di Malaysia.

Ada pula penyerahan tanda apresiasi sebagai ungkapan terima kasih atas sambutan dan hubungan baik yang telah terjalin.

Hubungan Baik yang Membuka Peluang

Di balik suasana akrab tersebut, pertemuan juga membuka pembicaraan mengenai peluang kolaborasi antara kampus dan dunia industri.

Pengalaman Mas Wawan di PETRONAS menjadi sumber pengetahuan yang relevan bagi mahasiswa maupun dosen Teknik Geodesi UGM. Dalam diskusi informal, muncul gagasan untuk kembali menggiatkan kuliah tamu, menjajaki kunjungan lanjutan, serta membicarakan kemungkinan kesempatan magang bagi mahasiswa.

Gagasan-gagasan tersebut memang masih memerlukan komunikasi dan tindak lanjut. Namun, pertemuan ini memperlihatkan bagaimana hubungan personal yang baik dapat mempermudah terbukanya percakapan tentang kerja sama yang lebih konkret.

Hubungan antara kampus dan alumni sering kali dipahami sebagai sesuatu yang bersifat administratif. Alumni diundang ketika ada kegiatan, diminta mengisi survei, atau dihubungi ketika kampus membutuhkan dukungan. Padahal, hubungan yang kuat tidak dapat dibangun hanya ketika ada keperluan.

Pengalaman bersama Mas Wawan memperlihatkan hal yang berbeda. Kepeduliannya sudah tumbuh sejak menjadi mahasiswa, terus terjaga melalui komunikasi, dan tetap terlihat ketika ia telah memiliki tanggung jawab profesional yang besar.

Tentu saja, hubungan semacam ini tidak muncul begitu saja. Pengalaman yang baik selama kuliah, interaksi yang hangat antara mahasiswa dan dosen, serta kesediaan untuk terus berkomunikasi menjadi bagian penting dari proses panjang tersebut.

Pada akhirnya, kunjungan ke Menara Petronas ini memberikan pelajaran sederhana yang penting. Kampus tidak hanya bertugas mendidik mahasiswa hingga mereka lulus. Kampus juga perlu membangun hubungan manusiawi yang membuat alumninya merasa tetap menjadi bagian dari keluarga akademik, di mana pun mereka berada.

Sebaliknya, alumni dapat terus mengambil peran dalam perjalanan almamaternya, melalui berbagi pengalaman, membuka jejaring, atau membantu adik-adik mahasiswa menemukan kesempatan baru.

Menara Petronas mungkin menjadi tempat yang paling menarik untuk dikenang dari kunjungan ini. Namun, yang lebih berharga adalah hubungan baik yang telah dibangun jauh sebelum pertemuan tersebut terjadi, dan diharapkan terus terjaga setelahnya.

Diplomasi yang Akrab: Cerita dari Sebuah Pertemuan di Kuala Lumpur

Berita Senin, 19 Oktober 2026

Kuala Lumpur, Malaysia — Niat awalnya sederhana. Sekadar mengabarkan bahwa rombongan Departemen Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang berkunjung ke Malaysia. Bukan meminta pertemuan, apalagi jamuan. Namun, sebuah pesan singkat kepada Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Malaysia justru berujung pada pertemuan hangat di sebuah restoran di Kuala Lumpur. Dari situlah cerita menarik tentang diplomasi pendidikan dimulai.

Pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 16.30 waktu setempat, rombongan Departemen Teknik Geodesi UGM bertemu dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk Malaysia, Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., di restoran Madam Kwan’s, Kuala Lumpur. Beliau hadir bersama istri dan menjamu rombongan UGM yang berjumlah 18 orang, dipimpin oleh Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof. Trias Aditya. Dua mitra industri, Bapak Ricky dan Bapak Madiono, juga turut hadir.

Pertemuan tersebut bermula ketika Dr. I Made Andi Arsana, salah satu dosen Teknik Geodesi UGM, menghubungi Bapak Ahmad Romadhoni untuk menyampaikan rencana kunjungan rombongan ke Malaysia. Bagi Andi, mengabarkan kedatangan kepada perwakilan Indonesia merupakan bagian dari etika kunjungan akademik. Selain itu, komunikasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dengan dukungan Atase Pendidikan pada masa mendatang.

Respons yang diterima ternyata melampaui harapan. Pak Dhoni, demikian beliau biasa dipanggil, justru berinisiatif mengundang seluruh rombongan untuk bertemu dan berbincang bersama.

Cerita di Balik Tugas Seorang Atase Pendidikan

Pertemuan berlangsung santai. Percakapan mengalir dari pengalaman pribadi hingga berbagai persoalan pendidikan Indonesia di Malaysia. Di antara cerita yang dibagikan, ada satu hal yang sangat membekas bagi rombongan UGM, yaitu kompleksitas mengurus pendidikan anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI).

Pak Dhoni menceritakan bahwa sebagian anak PMI menghadapi kesulitan mengakses pendidikan karena tidak memiliki dokumen administrasi yang diperlukan. Persoalan ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam upaya memastikan mereka tetap memperoleh kesempatan belajar.

Cerita tersebut memberikan perspektif yang berbeda tentang pekerjaan seorang Atase Pendidikan. Bagi kalangan perguruan tinggi, kerja sama pendidikan internasional sering kali identik dengan pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, atau program gelar ganda. Namun, dari percakapan sore itu, rombongan UGM memperoleh gambaran bahwa diplomasi pendidikan juga menyangkut persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana membantu anak-anak Indonesia memperoleh kesempatan bersekolah ketika kondisi mereka tidak sesederhana yang dibayangkan.

Di balik istilah diplomasi pendidikan yang terdengar formal, ternyata ada persoalan kemanusiaan yang sangat nyata. Ada anak-anak yang membutuhkan sekolah, ada persoalan administrasi yang tidak mudah diselesaikan, dan ada upaya panjang untuk mencari jalan keluarnya.

Cerita itu menjadi salah satu bagian paling berkesan dari pertemuan tersebut.

Dari Persahabatan hingga Peluang Kolaborasi

Di tengah pembicaraan tentang berbagai tantangan pendidikan, suasana menjadi semakin akrab ketika Pak Dhoni, yang juga adalah dosen Fakultas Peternakan UGM, bercerita tentang masa sekolahnya di SMA Negeri 3 Yogyakarta, yang dikenal sebagai Padmanaba.

Kebetulan, beberapa dosen Teknik Geodesi UGM juga merupakan alumni sekolah yang sama. Kesamaan tersebut segera memunculkan nostalgia tentang Yogyakarta dan membuat percakapan semakin cair.

Sebuah pertemuan yang awalnya dilandasi kepentingan kelembagaan ternyata juga mempertemukan orang-orang dengan kenangan dan pengalaman yang saling beririsan. Tidak semua hal harus dibicarakan dalam suasana resmi untuk menghasilkan hubungan yang baik.

Dalam kesempatan itu, Pak Dhoni juga menyampaikan kesediaannya untuk mendukung penguatan kolaborasi pendidikan antara Indonesia dan Malaysia. Ia mendorong agar hubungan yang telah terbangun dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang nyata.

Bagi Departemen Teknik Geodesi UGM, dukungan tersebut tentu menjadi kabar baik. Malaysia memiliki banyak institusi pendidikan yang relevan untuk dijajaki sebagai mitra akademik. Kehadiran Atase Pendidikan yang terbuka terhadap kolaborasi dapat membantu mempertemukan gagasan dan pihak-pihak yang memiliki kepentingan bersama.

Meski demikian, pertemuan sore itu memang tidak dimaksudkan untuk menghasilkan kesepakatan formal. Tidak ada dokumen yang ditandatangani atau program baru yang langsung diputuskan. Yang terbangun adalah komunikasi, saling pengertian, dan kesediaan untuk menjaga hubungan baik.

Bagi rombongan UGM, hal tersebut sudah merupakan awal yang menggembirakan.

Pertemuan di Madam Kwan’s sore itu meninggalkan dua kesan. Pertama, adanya kepedulian dan kerja nyata di balik tugas diplomasi pendidikan Indonesia di Malaysia, terutama dalam menghadapi persoalan pendidikan anak-anak PMI. Kedua, adanya keterbukaan untuk mendukung kolaborasi akademik yang lebih luas antara kedua negara. Rombongan UGM pulang dengan kesan bahwa urusan pendidikan Indonesia di Malaysia mendapat perhatian dari sosok yang memahami tantangan di lapangan sekaligus terbuka terhadap gagasan kerja sama.

Kini, kesempatan itu perlu ditindaklanjuti dan dimanfaatkan dengan baik. Sebab, terkadang kerja sama yang baik tidak dimulai dari sebuah dokumen resmi, melainkan dari komunikasi sederhana, sambutan yang hangat, dan percakapan yang saling membuka wawasan.

Agenda

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Berita Terakhir

  • Dari Geodesi UGM ke Menara Petronas: Tentang Alumni dan Hubungan yang Terus Terjaga
  • Diplomasi yang Akrab: Cerita dari Sebuah Pertemuan di Kuala Lumpur
  • Lebih dari Sekadar Pembimbing: Kisah Reuni Akademik Dr. Nasir dan Alumni UTP
  • Departemen Teknik Geodesi UGM Kunjungi PEJUTA Malaysia, Bahas Pengembangan Profesi Surveyor dan Kolaborasi Internasional
  • Departemen Teknik Geodesi UGM Jajaki Kolaborasi Akademik dengan Industri melalui Kunjungan ke Topcon Malaysia
Universitas Gadjah Mada

Departemen Teknik Geodesi

Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Jl. Grafika no.2 Bulaksumur, Yogyakarta, 55281
  (+62274) 520226
  geodesi@ugm.ac.id

Direktori

  • Universitas Gadjah Mada
  • Fakultas Teknik UGM
  • Jurnal JGISE

Tautan

  • Jurnal Geodesi
  • Katdesi
  • KMTG
  • Geodeta UGM

Sosial Media

  • Instagram
  • Twiter
  • Facebook
  • Email

Saran dan Masukan

  • Aspirasi UGM

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY