Yogyakarta, 16 Februari 2026 — Program Meet the Professor kembali digelar sebagai forum diskusi akademik yang menghadirkan pakar internasional di bidang perkotaan dan geospasial. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Arsana Ecosystem yang bertujuan memperluas wawasan akademik melalui dialog terbuka. Acara ini juga menjadi ruang interaksi antara akademisi Indonesia dan dunia internasional dalam membahas isu-isu strategis.
Dalam edisi kali ini, program menghadirkan Dr. Filip Biljecki dari National University of Singapore (NUS) sebagai pembicara utama. Ia dikenal sebagai peneliti yang berfokus pada urban analytics dan pengembangan kota berbasis data. Melalui sesi diskusi, ia membagikan perjalanan akademiknya serta pandangannya dalam memahami dinamika kota modern.
Dr. Biljecki menjelaskan bagaimana pengalamannya lintas negara, mulai dari Kroasia, Belanda, hingga Singapura, membentuk perspektifnya dalam penelitian perkotaan. Ia menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam memahami kompleksitas kota. Selain itu, ia juga menyoroti bagaimana teknologi geospasial dan data science dapat digunakan untuk menciptakan kota yang lebih layak huni.
Diskusi juga membahas pentingnya kolaborasi internasional dalam pendidikan tinggi dan penelitian. Menurutnya, kerja sama lintas negara membuka peluang besar dalam pertukaran pengetahuan dan pengembangan inovasi. Hal ini dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Kegiatan ini dimoderatori sekaligus dikembangkan oleh I Made Andi Arsana, Ph.D., dosen Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia berperan dalam menginisiasi forum diskusi yang mendorong keterhubungan antara akademisi Indonesia dengan jaringan internasional. Melalui program ini, ia berharap dapat membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas di masa depan.
Acara berlangsung secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang akademik. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif dengan pertanyaan yang beragam dari peserta. Hal ini menunjukkan tingginya minat terhadap isu pengembangan kota dan kolaborasi global dalam penelitian.
Penyelenggara berharap program Meet the Professor dapat terus menjadi wadah pertukaran ide yang inspiratif dan konstruktif. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong terbentuknya kerja sama riset dan supervisi akademik lintas institusi. Dengan keterlibatan pakar internasional, kualitas diskusi akademik diharapkan semakin meningkat.
Ke depan, forum seperti ini dipandang penting dalam memperkuat posisi akademisi Indonesia di kancah global. Kolaborasi yang terjalin tidak hanya berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada solusi nyata bagi berbagai permasalahan perkotaan. Oleh karena itu, keberlanjutan program ini menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem akademik yang inklusif dan berdaya saing.